HomeArticles

Article List

Wise Woman

STOP MENJADI SUPERMOM BAGI ANAK ANDA

Sikap orang tua yang selalu berusaha menghindari anak dari penderitaan apapun.
Itu bukan cara didik yang BENAR! Melainkan didiklah mereka untuk menderita dengan baik!
Bukankah penderitaan harus dihindari apapun caranya?
BUKAN,.. karena penderitaan adalah hal yang NORMAL.

Faktanya memang anak manusia memiliki ketergantungan paling tinggi terhadap induknya dibandingkan dengan mamalia lainnya. Dimulai dari masa mengandung yang mencapai 266 hari, masa menyusui yang bisa mencapai 2 tahun dan masa mengasuh yang berlangsung dalam periode yang lama yaitu sampai anak dianggap dewasa atau mandiri secara mental. Itu sebabnya melindungi anak dari penderitaan merupakan tindakan yang alamiah dari seorang ibu terhadap anaknya. Terutama jika seseorang pernah mengalami masa-masa penuh penderitaan dimasa kanak-kanaknya, maka setelah hidupnya berubah menjadi lebih baik  dan memiliki anak, ia akan berusaha dengan segala macam cara supaya anaknya tidak perlu mengalami penderitaan seperti yang ia alami dahulu. Sampai batas ini, cukup wajar dan cukup baik, tapi pada kenyataannya tidak sedikit oran tua yang memiliki latar belakang seperti itu bertindak sangat ekstrim dengan berusaha menghilangkan sama sekali penderitaan yang dapat mengancam anaknya.

Berikanlah ‘theologia Penderitaan’ yang masuk akal kepada anak-anak anda. Pastikan mereka memahami realitas hidup ditengah dunia yang telah jatuh ini, Mereka perlu mengetahui dua fakta dasar dan tidak dapat diubah ini : (1) Hidup itu berat, tetapi Allah baik; dan (2) Hidup tidak adil, tetapi Allah berdaulat.

Anda tahu hidup itu berat, namun anak-anak mungkin berpikir tidak begitu seharusnya, terutama bila mereka percaya pada pesan yang mereka peroleh dari TV dan film, dimana sering orang tidak perlu menanggung akibat dari perbuatan dosa atau kesalahan yang mereka lakukan, bahkan tidak sedikit film Hollywood justru menampilkan ‘si pelanggar peraturan’ menjadi idola dan pahlawan. Bisa tetap hidup nyaman sekalipun telah melakukan pelanggaran.

Mungkin satu kali mereka akan datang kepada Anda dan menangisi akibat ketidak adilan yang mereka hadapi. Anda tidak dapat mengubah keadaan. Anda perlu mempersiapkan mereka untuk menghadapi kesulitan dan kedewasaan hidup. Mereka perlu mengetahui kepada siapa harus meminta pertolongan ketika hidup mengecewakan mereka. Pertama-tama kepada Anda dan setelah beranjak remaja, kepada Allah.

Tujuan utama anda berada di area penderitaan adalah supaya anak-anak anda dapat mengikuti teladan Yesus. “Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristuspun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kami mengikuti jejakNya. Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya. Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam’ 1 Pet 2 : 21-23. Ini merupakan kesempatan untuk mengajar anak-anak menanggapi penderitaan seperti halnya Yesus; menyerahkan diri mereka kepada Allah yang berdaulat yang menghakimi dengan adil. Allah akan mengambil situasi yang tidak adil, menyakitkan dan jahat dimana anak-anak anda hidup dan mencampurnya dengan kebaikan dan kedaulatanNya. Anak-anak perlu mengetahui bahwa mereka akan menderita, bahkan Yesus menjaminnya (Yohanes 16:33, “semuanya itu Kukatakan kepadamu supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kami menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.”) tetapi Allah baik dan Dia yang memegang kendali. Ketidak adilan apapun yang mereka hadapi, pada akhirnya Allah yang akan membereskannya. Kesukaran apapun yang mereka lewati, Allah dapat memberi kekuatan melaluinya.
Oke.. tapi bagaimana menyiapkan mereka menghadapi penderitaan?

Ada 3 langkah yang perlu Anda lakukan ketika anak mendatangi anda dengan sedih karena penderitaan yang dialaminya :
Langkah pertama
Tanyakan apa yang mengganggu mereka dan beri mereka kebebasan (jangan langsung diberikan komentar) untuk menjawabnya dengan jujur. Ketika ada hal yang salah terlihat pada diri anak anda, tanyakan masalahnya kepada mereka. Setelah mereka bercerita berempatilah bagi mereka. Katakanlah hal-hal seperti :’Ya, mama dapat merasakan sakitnya. Situasinya memang berat.” Jangan masuk dengan memberikan koreksi dan penilaian, atau segera memberikan solusi kepadanya berdoalah dengan mereka. Berikan kesempatan kepada Allah. Ingatlah bahwa Anda tidak akan selalu berada disisi mereka, tetapi Allah. Undanglah Dia di dalam situasi yang sedang dihadapi anak Anda sehingga mereka dapat belajar cara melakukannya.

Langkah kedua
Menemukan dimana mereka menderita. Anda telah membuat mereka mengatakan apa yang mengganggu mereka. Sekarang cobalah mencari dibalik situasi bermasalah tersebut dan galilah akar permasalahannya. Disini pentingnya mendengar bukan hanya dengan telinga tepi dengan hati Anda. Ingat akan fungsi Roh Kudus yang diberikan kepada Anda sebagai penolong supaya anda dapat melakukan semua perintahNya. Salah satu perintahNya kepada Anda sebagai orang tua adalah mendidik anak di dalam jalan Tuhan. Ini adalah waktu yang paling tepat untuk anda sebagai orang tua berbahasa Roh didalam hati dan meminta hikmatNya. Dia pasti akan menunjukkan dimana letak permasalahannya.

Langkah ketiga
Menghubungkan penderitaan dengan Firman Tuhan dan mulailah membetuk cara pandang anak Anda. Langkah ini adalah langkah yang penting untuk mendidik dan mewariskan Nilai-nilai kebenaran Firman kepada anak anda.

(disadur dari buku effective parenting in a defective world karangan chip Ingram – World Teach)

The Christian

Di kota Anthiokialah untuk pertama kalinya kumpulan orang percaya disebut Kristen. (Kisah para Rasul 11:26). Mereka mendapat sebutan demikian karena mereka mempraktekkan kasih satu sama lain, hidup dalam kasih karunia yang berlimpah-limpah, dan hidup dalam kebenaran. Karena itu, orang-orang menyebut mereka Kristen yang artinya “mirip Kristus” karena mereka menyadari kehidupan yang mereka jalani serupa kehidupan Yesus Kristus


Memiliki karakter dan nilai-nilai hidup seperti Kristus bukanlah perkara yang mudah. Namun, bukan berarti kita tidak bisa memilikinya. Satu-satunya cara yang bisa kita lakukan adalah dengan memberi diri dimuridkan, “dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Matius 28:20)

Untuk bisa mencerminkan kehidupan Tuhan, tidak cukup dengan datang ke gereja dan mendengar kotbah, kita harus diajar untuk melakukan. Ajaran Firman Tuhan dan teori saja tidak cukup untuk membentuk karakter kita, kita harus diajarkan untuk melakukan dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Kita membutuhkan contoh dan dorongan dari kehidupan orang lain.

Apakah yang seringkali membuat kita gagal memiliki karakter Kristus ?
1.    Pergaulan
Amsal 13:20
Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang.
Pergaulan kita akan menentukan seperti apa kehidupan kita, kalau selama ini hidup kita selalu ditimpa kemalangan, coba periksa lagi dengan siapa kita bergaul, karena jika kita bergaul dan belajar dari orang yang bijak maka hidup kita tidak mungkin akan terus menerus ditimpa kemalangan
Memilih bergaul dengan orang yang bijak bukan berarti kita harus bersikap sombong dan tidak mau kenal orang lain, kita tetap harus ramah dan menghormati orang lain. Tetapi kita juga harus memilih dengan baik teman-teman terdekat kita, orang-orang yang kita biarkan berada di lingkungan terdekat kita dan mempengaruhi hidup cara berpiki dan cara hidup kita.


2.    Pengajaran
Amsal 12:1
Siapa mencintai didikan, mencintai pengetahuan; tetapi siapa membenci teguran adalah dungu

Kita cenderung lebih suka mendengarkan pengajaran-pengajaran yang memuaskan hasrat hati kita, dibandingkan pengajaran-pengajaran yang mengandung teguran. Bahkan tidak jarang kita membenci orang yang menegur/menasehati kita. Alkitab mengatakan, siapa yang membenci tegurana dalah dungu

Jika kita mau mengalami memiliki hidup sama seperti Kristus hidup, maka jadilah orang yang mencintai teguran

3.    Perkara hati
Yesaya 50:4
Tuhan Allah telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid
Telinga dan lidah seorang murid merupakan pemberian Tuhan kepada kita, kedua panca indra ini dikontrol oleh hati kita. Apa yang kita katakan dan dengar akan sesuai dengan apa yang hati kita inginkan. Jika hati kita menolak, maka otomatis telinga dan lidah kita akan menolak.
Pemuridan adalah tugas bapak rohani dan ibu rohani, mereka yang mengajarkan kita bagaimana menghidupi kebenaran firman Tuhan dalam hidup kita sehari-hari, sehingga karakter kita terbentuk seperti Kristus. Seperti halnya yang terjadi antara paulus dan Timotius, “Justru itulah sebabnya aku mengirimkan kepadamu Timotius, yang adalah anakku yang kekasih dan yang setia dalam Tuhan” (1 Kor 4:17). Paulus menjadikan Timotius sebagai anak rohaninya, karena paulus mengajarkan kepada Timotius bukan hanya sebagai pelayan Tuhan, melainkan juga memiliki hidup seperti Kristus. Itu artinya, Tuhan menyediakan orang-orang yang dipakaiNya untuk mengajar kita.

Untuk dapat dimuridkan, kita membutuhkan kesiapan sebagai berikut
-    Siap berubah
Dunia berubah setiap detiknya orang yang berhasil adalah orang yang mau berubah. Orang yang merasa tidak perlu berubah tidak akan mengalami kemajuan dalam kehidupannya

  • Siap untuk belajar.                                                                            Orang yang memiliki keinginan untuk belajar, bukan hanya berkata bahwa mereka mau berubah tetapi juga mau terus belajar dan meningkatkan kualitas diri. Orang yang memiliki sikap siap untuk belajar, pastinya bersedia untuk membayar berapapun harganya untuk mendapatkan pengajaran
  • Siap untuk mengikuti                                                                                 Jika kita bersedia  untuk dimuridkan, maka kita harus siap untuk mengikuti contoh/teladan kehidupan ibu rohani kita; mencotoh nilai-nilai yang dipegangnya, mencotoh kebiasaan hidupnya, mencontoh bagaimana caranya ia bangkit dari kegagalan dan selalu rindu untuk terus belajar dari orang tersebut. Ini mungkin seperti sebuah perkara yang sederhana, namun juga merupakan sesuatu yang harus kita lakukan sepanjang kehidupan kita.


Seringkali kita memiliki orang yang bisa menjadi ibu rohani, ia yang dapat membimbing kita, penyebabnya sesungguhnya karena kita sendiri tidak mau memberi diri kita untuk dimuridkan. Pepatah cina tua mengatakan, jika murid siap, guru akan muncul

Marilah kita memberi diri untuk dimuridkan, agar benar-benar menjadi “The Christian” yaitu orang-orang yang memiliki karakter Kristus dalam hidupnya. Ketika kita dimuridkan, hidup kita akan jauh lebih maksimal, rencana Tuhan akan digenapi. Kita tidak perlu menghabiskan waktu kehidupan kita untuk berjalan dijalan yang salah karena kita tidak tahu jalan mana yang benar. Ketika kita mau di muridkan, hidup kita tidak akan sama lagi. (FD)

Bahagia & Berkarya

Perempuan yang tidak menuntut banyak bagi dirinya sendiri, tetapi hidup bagi orang lain, inilah yang disebut “berbahagia”. Ia tidak mengukur diri dari seberapa banyak yang ia peroleh, namun terlebih suka memberi hidupnya bagi Tuhan dan sesama. Tabita alias Dorkas. Nama ini tepat rasanya untuk masuk dalam kriteria tersebut.

Siapakah Dorkas? Ia adalah seorang penjahit. Satu-satunya hal yang dapat dilakukannya dengan baik ialah membuat pakaian. Dorkas adalah seorang wanita dengan hanya satu talenta, malah itupun bukan talenta yang menonjol atau menarik perhatian orang. Dari Alkitab diduga bahwa ia adalah wanita yang tidak menikah. Dorkas hidup melajang, dan dalam kelajangannya tak terlihat ada perasaan rendah diri atau frustasi. Malahan ia menggunakan profesinya untuk melayani orang-orang disekelilingnya.

Di Yope (sekarang Yaffa), sebuah kota pelabuhan di pantai laut Tengah, tempat tinggal Dorkas, rupanya ada banyak janda. Pada musim-musim tertentu keadaan cuaca sangat buruk, sehingga para nelayan sering mengalami perahu karam dan tenggelam. Banyak diantara para wanita disitu bukan saja kehilangan suami mereka, melainkan juga nafkah mereka. Disinilah Dorkas berperan melakukan banyak sekali perbuatan baik dan memberi sedekah. Dorkas adalah perempuan sederhana yang mengasihi Tuhan dengan segenap hatinya. Ia memelihara sekelompok orang-orang. Banyak janda-janda yang disentuh hatinya oleh kebaikan hati dorkas.

Suatu ketika terjadi sesuatu pada Dorkas. Ia jatuh sakit dan tak berapa lama kemudian meninggal dunia. Apa yang terjadi? Tak sedikit orang yang datang menghantar Dorkas. Semua janda datang dan berdiri didekatnya sambil menangis. Dengan bersimbah air mata, mereka menujukkan baju dan pakaian yang pernah diberikan Dorkas ketika masih hidup. Betapa kehilangannya mereka akan sosok Dorkas. Dorkas benar-benar telah menyentuh hati perempuan-perempuan ini dengan begitu dalam.

Seolah “tak rela” akan kepergian Dorkas, sebuah gagasan muncul. Petrus yang ada di Lida disusul dan dibawa ke yope kota mereka, untuk melakukan mukjizat bagi Dorkas. Betul saja, usaha ini tak sia-sia. Setelah Petrus berdoa, Dorkas membuka matanya dan ketika melihat Petrus, ia bangun lalu duduk. Janda-janda yang tadinya menangisi Dorkas tak terkira bahagianya melihat perempuan yang dikasihi mereka itu hidup kembali. Sesuai dengan kebaikan yang Dorkas pernah tabur, demikian kasih dan mukjizat yang ia tuai.

Dorkas tidak menutup mata melihat kebutuhan orang-orang disekelilingnya. Ia melakukan kebaikan dengan talenta yang dimilikinya. Karakter Dorkas membuatnya begitu dikasihi oleh banyak perempuan didaerahnya. Ia bahkan melebihi semua wanita lain yang disebutkan di dalam Alkitab, sebab hanya Dorkas sajalah yang disebut sebagai murid. Luar biasa bukan!!

Kalau Dorkas bisa menjahit, kira-kira talenta apa yang anda dan saya miliki? Tak ada suatu hal yang terlalu kecil di mata Tuhan, dan Ia ingin memakai anda dan saya seperti ia memakai Dorkas untuk orang-orang dikotanya.

 

Euodia & Sithike, Bersatu dalam perbedaan

Euodia kunasihati dan Sinthike kunasihati, supaya sehati sepikir dalam Tuhan. Bahkan, kuminta kepadamu juga, Sunsugos, temanku yang setia; tolonglah mereka. Karena mereka telah berjuang dengan aku dalam pekabaran Injil, bersama-sama dengan Klemens dan kawan-kawanku sekerja yang lain, yang nama-namanya tercantum dalam kitab kehidupan.
(Filipi 4:2-3)


Paulus secara spesifik menyebut nama Euodia dan Sintike, nama dua orang wanita didalam jemaat Filipi, mungkin telah terjadi kesalahpahaman antara Sinthike dan Euodia perihal bagaimana seharusnya mereka dapat membantu orang-orang miskin di Filipi, atau mungkin diantara mereka terjadi perdebatan mengenai siapa yang hendak melakukan tugas pelayanan. Tidak perlu satu permasalahan yang besar untuk memulai perbedaan pendapat diantara mereka, yang jelas itu sangat berdampak bagi semua jemaat dan membuat Paulus prihatin “I Plead with Euodia, I plead with Suntyche..”
Jika kita cermati bersama, gereja mula-mula memperlihatkan peranan wanita dalam pelayanan begitu penting luar biasa. Mulainya gereja di Filipi adalah dari seorang wanita yang percaya Tuhan bernama Lidia yang membuka rumahnya untuk memulai gereja (Kisah Rasul 16:13-15). Euodia dan Sintikhe, siapakah mereka ini? Tidak terlalu jelas. Beberapa penafsir mengatakan mungkin mereka adalah dua isteri pendeta yang sedang ribut; atau mungkin mereka adalah home-church leaders kepala gereja rumah. Paulus bicara secara indah, dengan imbang dan tidak memihak kepada siapa, “Hai Euodia, hai Sinthike, sehati sepikirlah dalam Tuhan. “Lalu Paulus lanjutkan, “bahwa kuminta kepadamu Sunsugos kawanku yang setia, tolonglah mereka...” (filipi 4:3).

Dalam terjemahan Indonesia seolah menunjukkan ini adalah nama seseorang. Tetapi dalam terjemahan Inggris lebih mengacu pada arti dari kata “sunsugos” yaitu my true companion, temanku yang setia, bukan kepada nama seseorang. Entah siapa teman yang Paulus minta untuk menjadi penengah diantara dua wanita ini. Ada yang menafsir itu adalah Timotius atau Eprafoditus yang membawa surah Filipi ini, atau kepada orang yang lain. Dan ada nama seorang yang lain yang disebut paulus disini yaitu klemens. Alkitab tidak menutup-nutupi bahwa didalam gereja Tuhan, diantara sesama anak-anak Tuhan juga bisa terjadi pertengkaran dan perselisihan. Paulus tidak bicara disini untuk membela pihak siapa, dan Paulus juga tidak membicarakan apa yang menjadi persoalan di antara mereka. Tetapi Paulus berbicara tentang satu stand point (pendapat) yang penting dan perlu, bukan stand point Euodia, bukan stand point Sintikhe, tetapi Paulus mengajak mereka didalam perselisihan pendapat dan konflik itu berdiri didalam satu stand point yang indah dan benar yaitu stand point “agree in the Lord”

Hal kedua yang menarik di sini, Paulus menyebut nama Euodia, nama Sinthike, nama klemens, dan setelah itu “dan kawan-kawanku sekerja yang lain...” Apa yang kita belajar dari sini? Paulus tidak menyebut satu-persatu siapa mereka. Kalau kita adalah orang-orang itu, apa tidak tersinggung? Memangnya tidak sama susahnya, sama beratnya, sama capenya, sama perjuangannya dengan Klemens? Kenapa Cuma nama dia yang disebut, namaku tidak? Yang harus menjadi perhatian kita adalah kalimat selanjutnya “yang nama-namanya tercantum dalam kitab kehidupan. “Dari situ kita dapat sedikit menebak-nebak kemungkinan pertengkaran diantara Euodia dan Sintikhe bicara dan berebut soal jasa, pujian, hormat atas apa yang mereka kerjakan didalam dunia ini. Euodia mungkin menuntut untuk mendapatkan porsi kehormatan lebih banyak daripada yang lain; Sintikhe juga mungkin menuntut hal yang sama. Kemuliaan, arogansi, ingin mendapatkan pujian, reward dan hormat bagi diri, mau menjadi yang lebih utama daripada yang lain, dan mau menjadi yang lebih dihormati dari pada yang lain, itu menjadi penyebabnya. Maka disini seolah Paulus mau mengingatkan jangan bicara soal itu, karena sampai di surga yang paling penting, adakah namamu tercantum dalam kitab kehidupan itu? Namamu mungkin terlewat tidak disebutkan waktu selesai satu pelayanan, jangan itu membuat hatimu tersinggung. Yang terpenting, adakan manamu tercantum disana?


Ketiga, dalam relasi dengan orang-orang yang terdekat dalam hidup kita, Firman Tuhan memanggil kita untuk memegang prinsip yang sama, sehati sepikir dalam Tuhan. Efesus 5:21 “... dan rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus” adalah sebuah ayat yang unik ditempatkan diantara dua tema. Kalau menjadi ayat terakhir dari bagian atas bisa menjadi satu kesimpulan bagaimana hidup orang yang dipenuhi oleh Roh Kudus, orang itu adalah orang yang saling merendhkan diri satu sama lain di dalam Kristus, menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri. Kalau itu diletakkan dibagian selanjutnya, bisa menjadi sebuah ayat yang menuntun bagaimana relasi yang indah diantara suami isteri, orang tua dan anak, tuan dan budak, rekan pelayanan diawali dengan relasi yang beres dengan Tuhan yaitu kita menghormati Kristus akan menghasilkan sikap hati yang merendahkan diri dalam relasi horizontal satu dengan yang lain. Ayat ini memanggil kita bagaimana secara praktis “agree in the Lord” diwujudkan dengan saling merendahkan diri di dalam takut akan Tuhan.

Orang-orang kristen yang setia tidak selamanya sepaham satu dengan yang lain. Ada kalanya pendapat-pendapat pribadi tidak dapat dengan sempurna tersalurkan, lalu menimbulkan stess dan perselisihan. Ini bukan berarti bahwa yang satu telah undur dari imannya. Tetapi, semua umat yang percaya perlu untuk “setuju tidak setuju didalam kasih,” seperti yang dikatakan Joh Wsley. Pendapat atau kesukaan yang sifatnya personal atau pribadi tidak seharusnya merusak persatuan
Ketika anda memiliki perbedaan pendapat dengan rekan satu timmu, apakah anda sudah menghadapinya dengan kasih, ataukah ini menjadi celah untuk memulai sebuah perpecahan? Anda tidak perlu ikut menyukai semua yang rekan se-tim mu sukai – cukup setuju dengan orang itu juga, bahwa ktia semua bekerja bersama didalam Kristus untuk kerajaanNya, bukan untuk tujuan masing-masing. Meskipun berbeda, mari kita tetap ada dalam kesatuan. (FD)

The Christian

Di kota Anthiokialah untuk pertama kalinya kumpulan orang percaya disebut kristen. (Kisah para Rasul 11:26). Mereka mendapat sebutan demikian karena mereka mempraktekkan kasih satu sama lain, hidup dalam kasih karunia yang berlimpah-limpah, dan hidup dalam kebenaran. Karena itu, orang-orang menyebut mereka Kristen yang artinya “mirip Kristus” karena mereka menyadari kehidupan yang mereka jalani serupa kehidupan Yesus Kristus


Memiliki karakter dan nilai-nilai hidup seperti Kristus bukanlah perkara yang mudah. Namun, bukan berarti kita tidak bisa memilikinya. Satu-satunya cara yang bisa kita lakukan adalah dengan memberi diri dimuridkan, “dan ajarlah mereka melakukansegala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Matius 28:20)


Untuk bisa mencerminkan kehidupan Tuhan, tidak cukup dengan datang ke gereja dan mendengar kotbah, kita harus diajar untuk melakukan. Ajaran Firman Tuhan dan teori saja tidak cukup untuk membentuk karakter kita, kita harus diajarkan untuk melakukan dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Kita membutuhkan contoh dan dorongan dari kehidupan orang lain.

Apakah yang seringkali membuat kita gagal memiliki karakter Kristus ?
1.    Pergaulan
Amsal 13:20
Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang

Pergaulan kita akan menentukan seperti apa kehidupan kita, kalau selama ini hidup kita selalu ditimpa kemalangan, coba periksa lagi dengan siapa kita bergaul, karena jika kita bergaul dan belajar dari orang yang bijak maka hidup kita tidak mungkin akan terus menerus ditimpa kemalangan

Memilih bergaul dengan orang yang bijak bukan berarti kita harus bersikap sombong dan tidak mau kenal orang lain, kita tetap harus ramah dan menghormati orang lain. Tetapi kita juga harus memilih dengan baik teman-teman terdekat kita, orang-orang yang kita biarkan berada di lingkungan terdekat kita dan mempengaruhi hidup cara berpiki dan cara hidup kita.

2.    Pengajaran
Amsal 12:1
Siapa mencintai didikan, mencintai pengetahuan; tetapi siapa membenci teguran adalah dungu

Kita cenderung lebih suka mendengarkan pengajaran-pengajaran yang memuaskan hasrat hati kita, dibandingkan pengajaran-pengajaran yang mengandung teguran. Bahkan tidak jarang kita membenci orang yang menegur/menasehati kita. Alkitab mengatakan, siapa yang membenci tegurana dalah dungu

Jika kita mau mengalami memiliki hdiup sama seperti kristus hidup, maka jadilah orang yang mencintai teguran

3.    Perkara hati
Yesaya 50:4
Tuhan Allah telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid
Telinga dan lidah seorang murid merupakan pemberian Tuhan kepada kita, kedua panca indra ini dikontrol oleh hati kita. Apa yang ktia katakan dan degnar akan sesuai dengan apa yang hati kita inginkan. Jika hati kita menolak, maka otomatis telinga dan lidah kita akan menolak.
Pemuridak adalah tugas bapak rohani dan ibu rohani, mereka yang mengajarkan kita bagaimana menghidupi kebenaran firman Tuhan dalam hidup ktia sehari-hari, sehingga karakter kita terbentuk seperti Kristus. Seperti halnya yang terjadi antara paulus dan Timotius, “Justru itulah sebabnya aku mengirimkan kepadamu Timotius, yang adalah anakku yang kekasih dan yang setia dalam Tuhan” (1 Kor 4:17). Paulus menjadikan Timotius sebagai anak rohaninya, karena paulus mengajarkan kepada Timotius bukan hanya sebagai pelayan Tuhan, melainkan juga memiliki hidup seperti Kristus. Itu artinya, Tuhan menyediakan orang-orang yang dipakaiNya untuk mengajar kita. Untuk dapat dimuridkan, kita membutuhkan kesiapan sebagai berikut
-    Siap berubah
Dunia berubah setiap detiknya orang yang berhasil adalah orang yang mau berubah. Orang yang merasa tidak perlu berubah tidak akan mengalami kemajuan dalam kehidupannya
-    Siap untuk belajar
Orang yang memiliki keinginan untuk belajar, bukan hanya berkata bahwa mereka mau berubah tetapi juga mau terus belajar dan meningkatkan kualitas diri. Orang yang memiliki sikap siap untuk belajar, pastinya bersedia untuk membayar berapapun harganya untuk mendapatkan pengajaran
-    Siap untuk mengikuti
Jika kita bersedia  untuk dimuridkan, maka kita harus siap untuk mengikuti contoh/teladan kehidupan ibu rohani kita; mencotoh nilai-nilai yang dipegangnya, mencotoh kebiasaan hidupnya, mencontoh bagaimana caranya ia bangkit dari kegagalan dan selalu rindu untuk terus belajar dari orang tersebut. Ini mungkin seperti sebuah perkara yang sederhana, namun juga merupakan sesuatu yang harus kita lakukan sepanjang kehidupan kita.

Seringkali kita memiliki orang yang bisa menjadi ibu rohani, ia yang dapat membimbing kita, penyebabnya sesungguhnya karena kita sendiri tidak mau memberi diri kita untuk dimuridkan. Pepatah cina tua mengatakan, jika murid siap, guru akan muncul

Marilah kita memberi diri untuk dimuridkan, agar benar-benar menjadi “The Christian” yaitu orang-orang yang memiliki karakter Kristus dalam hidupnya. Ketika kita dimuridkan, hidup kita akan jauh lebih maksimal, rencana Tuhan akan digenapi. Kita tidak perlu menghabiskan waktu kehidupan kita untuk berjalan dijalan yang salah karena kita tidak tahu jalan mana yang benar. Ketika kita mau di muridkan, hidup kita tidak akan sama lagi. (FD)

Page 1 of 13

Wise Woman

Girl's Talk

Easy to startPembinaan yang diadakan untuk setiap remaja putri sehingga setiap remaja putri bisa mengetahui fungsinya dan menjadi teladan dalam kehidupan mereka sehari - hari.

WB Single

Docs / SupportPembinaan yang di adakan untuk menjawab kebutuhan wanita yang belum menikah sehingga setiap wanita bisa mengetahui fungsinya dan menjadi teladan dalam kehidupan mereka sehari - hari.

WB Ibu

Native RTL SupportPembinaan yang di adakan untuk menjawab kebutuhan wanita yang sudah menikah sehingga setiap wanita bisa mengetahui fungsinya dan menjadi teladan dalam kehidupan mereka sehari - hari.

Free business joomla templates