HomeArticles

Article List

Wise Woman

Tips Membangun Disiplin Rohani dalam Hidup Sehari-hari

Pernahkah Anda merasa putus asa karena tidak mendapatkan perubahan batin yang anda harapkan meskipun Anda telah bertekad mengusahakannya?

Untuk mendapatkan perubahan, Anda harus menerapkan disiplin rohani setiap hari.  Disiplin rohani bertujuan untuk menempatkan diri kita di hadapan Allah agar Ia dapat mengubah kita.  Berikut adalah beberapa contoh disiplin rohani yang dapat kita terapkan dalam hidup sehari-hari:

1.Disiplin Bermeditasi

Meditasi yang dimaksud oleh kekristenan adalah mengambil waktu secara khusus untuk berdiam diri di hadapan Tuhan.  Ini tujuannya untuk mendengarkan Tuhan berbicara kepada kita dan memberikan arahan praktis dalam hidup kita (Kejadian 24:63, Mazmur 63:7).

2.Disiplin Doa

Doa adalah cara utama yang Allah pakai untuk mengubah kita. Jika kita tidak bersedia diubah, kita akan meninggalkan doa dalam kehidupan kita.  (Yakobus 4:3) Di dalam doa yang sungguh-sungguh, kita mulai berpikir seperti Allah berpikir; menginginkan apa yang diinginkan Allah, mengasihi apa yang dikasihiNya. Secara bertahap kita diajar untuk melihat segala hal menurut cara pandangNya.

3.Disiplin Berpuasa

Berpuasa menolong kita menjaga keseimbangan hidup. Seringkali, mudah bagi kita untuk mengijinkan hal-hal yang tidak penting menjadi fokus utama dalam hidup kita. Demikian juga, tanpa sadar kita sering diperbudak oleh hasrat dan keinginan.  Berpuasa menolong untuk menjaga agar hasrat dan keinginan itu tetap berada dalam saluran dan prioritas yang benar.

Dalam menjalankan ketiga disiplin rohani ini, Anda butuh ditemani oleh seorang ibu rohani yang menolong Anda untuk menerapkannya dalam hidup sehari-hari.(cc)

(Disadur dari buku Tertib Rohani karya Richard J. Foster)

Silent Killer

Banyak di antara kita tahu bahwa kanker merupakan penyakit pembunuh nomor satu di dunia. Di Indonesia pun setiap harinya terdapat 40-45 wanita terdeteksi kanker serviks dan 20-25 orang meninggal tiap harinya (sumber  www.google.com). Bagaimana kita mengenali penyakit ini?

Baru-baru ini tim Wanita Bijak Single Jakarta Pusat memprakarsai diadakannya sebuah seminar kesehatan tentang peduli penyakit kanker. Sekitar 700 orang memadati auditorium NAM Centre pada tanggal 15 Januari 2012. Pembicara seminar, Dr. Firman Santoso, seorang spesialist gynecology Jerman, menjelaskan tentang penyakit kanker dan bagaimana penanganannya, mulai dari tumor jinak, miom, kanker payudara sampai kanker serviks dan pembedahannya. Kanker disebut sebagai silent killer karena ia kadang-kadang tidak menimbulkan atau memperlihatkan gejala, sehingga orang tidak menyadari dirinya terkena kanker .  Mengenali penyakit kanker ini secara dini adalah lebih baik agar penanganan dapat segera dilakukan. Dr. Firman juga menerangkan bagaimana mendeteksi sendiri tubuh kita dari kanker payudara. Selain itu, seminar ini juga diisi dengan kesaksian dari Ibu Naomi yang mengalami kanker payudara, namun Tuhan telah menyembuhkannya bahkan sekarang ia telah menjadi berkat bagi banyak orang. Lebih lanjut, semua dana yang terkumpul dalam seminar ini akan disumbangkan bagi wanita-wanita yang menderita penyakit kanker.

Peduli pada kesehatan sudah menjadi kewajiban bagi kita dalam menjaga tubuh kita sebagai bait Tuhan. Untuk itu, pola makan yang sehat dan berolahraga merupakan hal-hal yang sudah seharusnya kita lakukan secara teratur. (lb)  

 

Bagaimana pertumbuhan kita sebagai orang percaya dalam hal karakter?

Bagaimana pertumbuhan kita sebagai orang percaya dalam hal karakter? Mungkin tanpa sadar kita mengalami pertumbuhan dengan lebih mengerti tentang hal-hal yang rohani tetapi apakah itu mengubah karakter kita menjadi lebih baik? Perubahan karakter adalah perkara rohani tetapi pengetahuan rohani belum tentu menghasilkan pertumbuhan karakter. Lewat pemuridan modul-2 WB, ibu rohani maupun anak rohani bersama-sama belajar dan bertumbuh. 

Dari sekian banyak karakter yang ada, seorang ibu rohani dapat belajar dan bertumbuh dalam hal: 

1.Bijak vs bebal (wisdom vs foolishness)

Bijak adalah karakter yang berkaitan dengan hikmat. Allah adalah sumber segala hikmat dan kepandaian. Jadi bagaimana kita bertumbuh menjadi seorang yang bijak adalah seberapa kita banyak mengaitkan hidup kita sehari-hari dengan kebenaran Firman Tuhan, sehingga kita mengalami kebenaran itu mengubah hidup kita. Bijak adalah melihat tangan Allah di dalam setiap pengalaman hidup. 

Suatu kali anak saya berkata demikian, “Mama, enak ya hidup jadi orang kaya…”. Saya bertanya, ”Kenapa kamu berkata demikian? Orang kaya itu yang seperti apa sih menurut kamu?” Ia lalu menjawab, ”Jadi orang kaya itu enak karena punya rumah besar dan banyak orang yang bisa diminta tolong untuk lakukan apa yang kita mau.” Saya terdiam, berpikir dan berdoa dalam hati; bertanya pada Tuhan bagaimana saya dapat memberikan pengertian yang benar. Dan Tuhan memberikan hikmatNya. Saya menjawab, “Nak, orang yang kaya itu adalah orang yang selalu punya sesuatu untuk dibagikan, sekalipun dia tidak mempunyai banyak untuk dibagikan. Itulah kemurahan hati.” Sejak saat itu anak saya mengerti bahwa “kaya” bukan semata-mata memiliki hal yang terlihat secara kasat mata, tetapi lebih kepada kaya karena melimpah dalam kemurahan yang sumbernya adalah Tuhan sendiri.

Seorang ibu rohani akan belajar untuk mengerti dan mengaitkan segala sesuatu dengan kuasa dan kedaulatan Tuhan. Ibu rohani yang terus belajar dalam hal ini akan makin bertumbuh dalam hikmat dan pengertian yang tidak akan pernah ada habisnya. Bukan menjadi yang hebat dan serba tahu tetapi menjadi seorang yang bijaksana karena Tuhan menjadi sumber hidupnya.

2.Kesediaan vs egosentris (availability vs self-centeredness)

Kesediaan adalah siap dan mampu melayani orang yang Allah bawa kepada kita.  Ibu rohani bukanlah jabatan atau pekerjaan, tapi ibu rohani adalah fungsi. Seperti halnya dengan seorang ibu jasmani dalam keluarga, maka menjadi ibu rohani akan menjadi beban jika melakukannya tidak dengan sukacita. Kesediaan adalah dasar dari pemuridan, kesediaan adalah memberikan hati kita dan bukan hanya tangan kita. Kesediaan sebagai seorang ibu rohani dimotivasi oleh keinginan untuk menjadi “pemberi” dan bukan “pengambil”.

Tantangan yang harus dihadapi seorang ibu rohani dalam setiap pemuridan adalah bagaimana proses ini dilakukan dengan konsisten (terus menerus) dan komitmen. Semua ini akan menjadi beban jika tidak dilakukan dengan pengertian yang benar. Kesediaan memberikan waktu, tenaga, pikiran, doa dan banyak hal lain yang dapat dilakukan harus didasarkan pada motivasi hati yang benar. Kesediaan yang didasari oleh sukacita untuk membuat orang lain berhasil akan mendatangkan perubahan.  

Seorang anak rohani dapat belajar dan bertumbuh dalam hal : 

1.Hormat vs meremehkan (honor vs disrespect)

Bagaimana kita menghormati seseorang dengan tulus lahir dari rasa takut yang benar akan Allah. Menghormati juga meliputi menghargai. Kita tidak mungkin menghargai seseorang jika kita tidak menghormatinya. Tidak ada seorang anak yang “harus dipaksa” untuk memiliki hormat kepada orang tuanya. Demikian juga halnya dengan seorang anak rohani kepada ibu rohaninya. Karakter ini lahir dari seberapa sang anak bertumbuh kedewasaannya dan memiliki pengertian yang benar mengapa dia menghormati ibu rohaninya. 

Seperti halnya dengan menjadi ibu rohani bukanlah suatu jabatan/pangkat, demikian pula seorang anak rohani bukan berarti memiliki tingkatan lebih rendah sehingga ia harus menghormati  ibu rohaninya. Karakter ini berkaitan dengan hormat kepada otoritas karena Tuhan. Seperti halnya dengan Musa yang menghormati perintah Tuhan lebih daripada semua harta dan kekayaan Mesir dan sebaliknya bagaimana Esau meremehkan hak kesulungan yang Tuhan berikan dan menukarnya dengan semangkok sup.

Saat seorang anak rohani belajar dan bertumbuh dalam karakter ini kepada ibu rohaninya, itu akan menjadi berkat tersendiri saat si anak rohani bertumbuh menjadi seorang ibu rohani kelak. 

 

2.Perhatian penuh vs mudah terganggu (attentiveness vs distraction)

Penuh perhatian adalah sikap yang lebih daripada sekedar mendengar dengan telinga, namun sebaliknya ini adalah sikap “hati yang mendengar”. Untuk mendengar dengan hati dibutuhkan kesediaan dan kerelaan. Kadang kita mendengar tetapi apa yang kita dengar lewat begitu saja, bahkan sering terlupakan. Tanpa kualitas penuh perhatian kita sulit untuk mengembangkan karakter yang lain karena pusatnya ada pada mata hati kita. 

Penuh perhatian dimulai secara pribadi kepada suara Allah dan bimbingan Roh Kudus dalam hidup sehari-hari kita serta kepada ajaran orang tua kita. Demikian pula, seorang anak rohani perlu belajar dan bertumbuh dalam karakter ini. 

Hal sederhana yang dapat dikembangkan adalah saat pemuridan berlangsung. Apakah kita menunjukkan sikap penuh perhatian kepada apa yang sedang dibicarakan? Ataukah kita sibuk dengan hal-hal lain? (GE/AA)

 

Sumber :  sebagian diambil dari  “Kuasa menuju sukses sejati” – International Association of Character Cities, Lembaga karakter prima Indonesia – tahun 2006

 

Persahabatan VS Pengibuan

Memiliki seorang sahabat adalah hal yang berharga dalam kehidupan ini. Namun, seorang wanita tidak cukup memiliki sahabat karena ada bagian dalam sisi gender- nya yang perlu disentuh, dibentuk, dan dididik oleh seorang wanita lain yang lebih dewasa secara rohani untuk menjadi seorang wanita seperti yang Tuhan kehendaki.

Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu; namun seorang ibu rohani tidak hanya memberikan kasih tetapi juga membimbing saat anak rohani-nya menghadapi masalah dan menolongnya menemukan jalan untuk keluar dari masalah tersebut. Dalam prosesnya, seorang ibu rohani membimbing dan mengajarkan bagaimana mempraktekkan kebenaran Firman Tuhan sampai kebenaran itu sendiri yang memerdekakan si-anak. Dalam persahabatan tidak ada unsur membimbing dan mendidik.

Persahabatan bisa jadi adalah hubungan yang terbangun secara faktor emosional (kesamaan hobby, visi, atau gaya hidup). Sahabat ada dalam saat suka dan duka. Namun hubungan ini dapat lekang oleh waktu. Sedangkan hubungan ibu dan anak rohani adalah berdasarkan kasih (agape) dimana masing-masing baik anak dan ibu rohani-nya belajar mengejar kasih dimana gaya hidup melibatkan Tuhan sehari-hari adalah faktor yang utama. Persahabatan jarang mencapai tahap ini. Karena persahabatan bisa terputus oleh perbedaan/konflik dan juga jarak.

 Tidak demikian hal nya dengan hubungan ibu dan anak rohani-nya. Seperti halnya dengan ibu-anak jasmani demikian juga dengan ibu-anak rohani. Tidak ada istilah “bekas anak atau bekas ibu”. Bisa jadi saat hubungan ibu – anak rohani terjalin dan mengalami masalah itulah saatnya ujian untuk mempraktekkan kasih (agape). Mungkin sang ibu rohani bisa terluka, kecewa, marah atau kesal karena satu kesalahan fatal yang dilakukan oleh si anak rohani, saat itu seolah hubungan itu akan terputus. Tentunya bukan hal yang mudah karena sama-sama wanita dan banyak melibatkan perasaan masing-masing. Namun seorang ibu rohani yang dewasa dan matang dalam kerohanian-nya tentulah tidak akan meninggalkan si anak begitu saja dan memilih untuk terluka/kecewa. 

Inilah ujian kedewasaan baik bagi si ibu rohani maupun si anak. Seorang ibu rohani tidak memaksakan kehendak/standard-nya kepada anak rohaninya untuk berubah tetapi membawa si anak rohani kembali kepada standard-nya Tuhan. 

Ibu rohani mendoakan, menolong, membimbing dan mendidik si anak untuk dapat mengalami bahwa Tuhan tetap bekerja mendatangkan kebaikan bahkan didalam kelemahan-kelemahan-nya (cc/aa)

 

Mengejar Kasih

Kita tahu bahwa kasih adalah kualitas karakter utama seorang Kristen. Karena itulah, bab pertama dari materi Modul 2 WB membahas tentang ‘mengejar kasih’. Kita juga tahu bahwa kasih itu sabar dan murah hati (1 Korintus 13:4). Oleh sebab itu, kita berusaha keras untuk bersikap penuh kasih dengan bertindak sabar dan murah hati. Namun seringkali, dalam waktu singkat kita menemukan bahwa kita ternyata gagal total. Meskipun akhirnya kita mengalami kemajuan yang berarti dalam mengasihi, tetapi kesabaran dan kemurahan hati kita ini ternyata dangkal dan tidak bertahan lama.

Kasih itu sendirilah, bukan tingkah laku yang menyenangkan atau maksud untuk mengasihi, yang mempunyai kekuatan untuk “menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.” (1 Kor 13:7-8). Berusaha untuk bertindak dengan penuh kasih saja akan membawa kita pada kehilangan kasih, yang akhirnya malah membuat kita marah dan putus asa karena “tidak berhasil mengasihi”.

Rasul Yohanes membuat dua pernyataan tentang sifat hakiki Allah: “Allah adalah terang” (1 Yohanes 1:5) dan “Allah adalah kasih” (1 Yohanes 4:8). Di sini kasih tidak didefinisikan sebagai tindakan atau ciri karakter, tetapi sebagai bagian hakiki dari sifat pribadi Allah. “Allah adalah kasih; lama sebelum Ia membuat makhluk apa pun menjadi objek kasihNya, bahkan sejak segala kekekalan,” menurut seorang teolog yang bernama Bethune.

Kasih inilah yang menjadi sumber sukacita dan kesegaran yang terus menerus bagi diri sendiri dan orang lain, menjadi “mata air yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal (Yohanes 4:14).

Ketika kita mengijinkan Allah yang adalah kasih masuk menuju kedalaman hati, kita dimampukan untuk bertindak dengan penuh kasih, bahkan sampai pada tingkatan yang membuat kita sendiri terkejut. Ketika itu terjadi, kapasitas kita untuk mengasihi akan berkembang secara alamiah. Kini kasih bukan lagi beban tambahan yang membuat kita merasa bersalah ketika tidak cukup mengasihi, seperti yang pasti terjadi bila kita berusaha dengan sekuat tenaga untuk “bertindak dengan penuh kasih.”

Dengan kata lain, ’mengejar kasih’ bukanlah berusaha untuk mengasihi dengan kekuatan kita sendiri. Mengejar kasih adalah menempatkan diri di hadapan Tuhan untuk Ia mengalirkan kasih-Nya yang memampukan kita mengasihi Tuhan, diri sendiri, dan orang lain. Tidak mungkin kita dapat mengasihi orang lain, sebelum mengasihi Tuhan dan diri sendiri. (Matius 22:37-39).

Tetapi bahkan ‘rasa lapar rohani’ yang menggerakkan kita untuk mengejar kasih pun merupakan anugerah. Tugas kita adalah meresponi desakan rasa lapar ini lewat komunikasi yang intens denganNya dalam doa, perenungan Firman, mempelajari kebenaranNya, penyembahan kepadaNya, dan pelayanan kita bagiNya. 

Pada akhirnya, hidup yang penuh sukacita (joyful) dalam situasi apapun yang dihadapi, adalah bukti nyata dari usaha mengejar kasih yang kita lakukan.**

 

Page 13 of 13

Wise Woman

Girl's Talk

Easy to startPembinaan yang diadakan untuk setiap remaja putri sehingga setiap remaja putri bisa mengetahui fungsinya dan menjadi teladan dalam kehidupan mereka sehari - hari.

WB Single

Docs / SupportPembinaan yang di adakan untuk menjawab kebutuhan wanita yang belum menikah sehingga setiap wanita bisa mengetahui fungsinya dan menjadi teladan dalam kehidupan mereka sehari - hari.

WB Ibu

Native RTL SupportPembinaan yang di adakan untuk menjawab kebutuhan wanita yang sudah menikah sehingga setiap wanita bisa mengetahui fungsinya dan menjadi teladan dalam kehidupan mereka sehari - hari.

Free business joomla templates