HomeWise Woman Edisi 19

Article List

Wise Woman

Refocusing Regional Jabodetabek

Memahami esensi dalam pelayanan WB sangat penting bagi setiap orang yang terlibat melayani. Dengan mengetahui esensi tersebut, fokus kita dalam melayani. Dengan mengetahui esensi tersebut, fokus kita dalam melayani akan semakin dipertajam sehingga mencapai sasaran yang tepat. Untuk itu Refokusing pelayanan tim Wanita Bijak untuk wilayan Jabodetabek diadakan pada 22 Maret 2014 yang lalu di Keala Gading, Jakarta Utara

“Diharapkan melalui Refokusing ini setiap PIC dan timnya dapat menemukan/mengidentifikasi masalah yang ada di dalam tim dan menemukan jalan keluarnya sehingga tim tersebut menjadi solid dan sehati dalam melayani para wanita di kotanya. Selain itu, PIC dan tim juga dibukakan wawasannya agar dapat mengambil keputusan dengan tepat yang berkaitan dengan tepat yang berkaitan dengan strategi pengembangan kotanya”, ujar ibu Iin Palenkahu, PIC Regional Jabodetabek. Materi yang disampaikan dalam pelayanan WB (Nilai, Esensi, Materi dan Teknis pelaksanaan pembinaan WB), dibawakan oleh ibu Friska Widjaja, ibu Susanna Setiawan, ibu Heryanti Satyadi, dan ibu Anna ho.

“Materi-materi yang disampaikan sangat memotivasi kami lebih mengerti lagi kebutuhan dan fungsi-fungsi dalam melayani sehingga membuat tim kami lebih bersemangat.” (Ibu Alin, Tim WB Ibu Jakarta Pusat)

“Melalui Refocusing ini, memotivasi saya untuk melakukan pelatihan-pelatihan modul 2 area Timur khususnya segmen single dapat berjalan kembali.” (Veronika W, Tim Single Jakarta Timur)

“Setelah mengikuti Refocusing ini, saya semakin antusias dalam melayani jiwa-jiwa dan lebih menghidupi lagi nilai-nilai pelayanan WB ini.” (Elvira A., GT Bekasi)

Setelah pertemuan refokusing WB ini, setiap tim dan PIC diharapkan membuat pertemuan tim masing-masing untuk memperbaiki hal-hal yang masih kurang dan memperlengkapi tim lebih lagi. (lb)

Lea

Seorang perempuan yang tidak mengandalkan kekuatan fisiknya, maka Allah yang menjadi kekuatannya

Kecantikan dan isi hati seorang wanita terpancar melalui keindahan matanya. Tidak demikian dengan Lea, Alkitab mencatat bahwa matanya tidak berseri – Kejadian 29:17 (kemungkinan ini hanyalah ungkapan yang sopan untuk menyatakan bahwa ia tidak secantik Rachel , adiknya).

Meskipun ia cacat dalam salah satu bagian penting dari kehidupannya, namun Lea diberkati oleh Allah dengan suatu cahaya yang khusus. Allah memang tidak pernah menutup satu pintu tanpa membukakan pintu lainnya. Pintu yang terbuka bagi Lea ialah menjadi seorang ibu. “Karena Yakub tidak mencintai lea...” demikian kata Alkitab. Allah membuat agar Lea mempunyai anak. (Kejadian 29:31, “Ketika TUHAN melihat, bahwa Lea tidak dicintai, dibukaNyalah kandungannya, tetapi Rachel mandul”). Allah melihat hati Lea, hatinya yang senantiasa berharap kepada Allah (1 Samuel 16:7, “Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati”).

Begitupun dengan Anda, Allah tidak memangang seberapa menariknya Anda, berapa banyak talenta yang Anda miliki, seberapa hebatnya Anda. Ia memandang hati anda. Hati anda selalu menjadi daya tarik Allah untuk memproses kehidupan Anda menjadi seperti yang Ia mau.

Fisik yang tidak menarik sering menjadi persoalan utama dalam kehidupan wanita, itu sebabnya tidak sedikit wanita yang rela menghabiskan uang berapapun jumlahnya untuk memperoleh fisik yang menarik. Kekurangan pada titik dapat membuat seorang wanita merasa rendah diri, apatis, sensitif bahkan dapat membuatnya mengucilkan diri dari sesama teman, dari dunia luar, dan bahkan dari Allah. Berbeda dengan Lea, kepedihannya membawa ia semakin dekat dengan Allah. Ia mendapatkan kekuatan yang sesungguhnya ketika menghadapi tekanan-tekanan yang harus ia hadapi setiap hari. Setiap kepedihan yang ia alami, dibawanya kepada Allah dan tercermin dalam nama yang ia berikan kepada setiap anak-anaknya. Ketika orang mengatakan “apalah arti sebuah nama”, Lea memiliki cara pandang yang berbeda. Baginya, nama buka sekedar tindakan simbolis orang tua kepada anak. Nama adalah proyeksi hubungannya dengan Tuhan, sebuah doa yang ia panjatkan ditengah-tengah kelemahannya sebagai seorang wanita yang juga menunjukkan kekuatan yang dimilikinya ditengah penderitaan yang dihadapinya.

Anak pertamanya diberi nama Ruben yang berarti “Ia telah melihat penderitaanku”. Saat itu, Lea berpikir bahwa Allah telah memperhatikan kesusahannya. Ia percayakan dirinya kepada Allah dengan penuh keyakinan. Allah telah berjanji bahwa bila seseorang berseru kepada Allah, Ia akan menjawab dan menunjukkan keselamatan yang datang dari padaNya (Mazmur 91 : 15-16), “Bila ia berseru kepada-Ku, Aku akan menjawab, Aku akan menyertai dia dalam kesesakan, Aku akan meluputkannya dan memuliakannya. Dengan panjang umur akan kukenyangkan dia, dan akan kuperlihatkan kepadanya keselamatan dari pada-Ku.”). Anaknya yang kedua diberi nama Simeon yang berarti  “Tuhan telah mendengar”. Bilamana ia menyebutkan nama Simeon, ia dan orang-orang disekitarnya diingatkan akan kebaikan Allah. Lea menceritakan persoalannya kepada Allah dan tidak lupa memuliakan Dia di depan orang banyak setelah Ia menjawab doa-doanya. Memang hal inilah yang diharapkan Allah dari manusia (Mazmur 50:11, “Berserulah kepada-Ku pada waktu kesesakan, Aku akan meluputkan engkau, dan engkau akan memuliakan Aku”)

Kedua belas suku Israel yang namanya dinamai menurut anak-anak Yakub, akan terus mengingatkan kita tentang kesetiaan Allah. Oleh karena Lea yang memiliki hubungan yang dekat dengan Allah, suatu pusaka besar diberikan kepadanya. Kepedihan di dalam kehidupan Lea dipakai Allah sebagai alat, menjadikannya sebagai batu bangunan bagi rumah Israel. Kerinduan yang wajar dari seorang istri untuk mendapat kasih dari suaminya masih tetap ada didalam hatinya. Meskipun ia tetap tidak memperolehnya, Lea menjadi semakin mengerti tentang Allah. Kehidupan diperkaya oleh kepedihannya, dan menjadi dewasa karena ujian. Kepercayaannya kepada Allah sebakin bertambah. Ia semakin kuat meskipun dalam kelemahan.

Ketika anaknya yang keempat, Yehuda lahir, kasih Lea kepada Allah semakin kuat bahkan lebih kuat daripada kasihnya kepada Yakub. “Sekali ini aku akan bersyukur kepada Tuhan”, serunya dengan gembira (Kejadian 29:35, Mengandung pulalah ia, lalu melahirkan seorang anak laki-laki, maka ia berkata : “sekali ini aku akan bersyukur kepada Tuhan.” Itulah sebabnya ia menamai anai itu Yehuda. Sesudah itu ia tidak melahirkan lagi). Tentunya saat itu Lea tidak menyadari akan nubuatan akan keturunan Yehuda; dari keturunannya, mesias akan datang. Lea tidak pernah tahu hak istimewa yang ia peroleh. Ia dipakai Allah untuk menjadi berkat bagi seluruh umat manusia. Melalui kerutunan Lea-lah, Juruselamat dunia hadir.

Sepanjang kehidupannya, Lea tidak pernah mendapatkan cinta Yakub. Hidupnya jauh dari menyenangkan, namun semuanya itu menjadikan ia seorang perempuan yang memiliki iman yang kokoh dan berakar. Lea, perempuan yang matanya tidak berseri, perempuan yang sepanjang hidupnya lebih sering menangis dengan sedih. Pada akhir kehidpannya mendapatkan tempat yang terhormat. Banyak wanita yang berusaha mencari kebahagiaan dengan caranya sendiri, berusaha menjalani hidup dengan kekuatannya sendiri, tetapi berakhir tanpa memperoleh kehormatan dalam hidupnya. Setelah Lea mati, ia ditempatkan dalam pekuburan keluarga, ditempat yang terhormat, disejajarkan dengan Abraham, Sara, Ishak dan Ribka.

Cerita Lea merupakan dorongan untuk melihat bagaimana Allah melihat seseorang, ceritanya juga menginspirasi bagaimana memperoleh kekuatan didalam kelemahan. Allah menilai dan memandang Lea berdasarkan hatinya dan bukan berdasarkan penampilannya. Melalui kasihNya, Ia dapat mengubah hidup seseorang dan menolongnya menanggung beban hidup yang harus ditanggungnya. Salib adalah bukti kasih Tuhan kepada kita, bukti yang menunjukkan bahwa segala kelemahan telah ditanggungNya diatas kayu salib itu. Mari bawa setiap kelemahan kita pada Kristus, agar kita memperoleh kekuatan yang sesungguhnya seperti yang Lea alami. (sumber : Gien karssen, Ia Dinamai Perempuan, Kalam hidup)

Pertanyaan Pendalaman :

1.       Dari kisah diatas, bagian mana dari kehidupan Lea yang paling mengesankan Anda?

2.       Bacalah kembali kejadian 29, daftarkanlah nama anak-anak Lea dan juga artinya. Renungkan nama-nama itu, apa yang paling mengesankan dibalik nama-nama tersebut?

3.       Peringatan apa yang dapat anda tarik dari kehidupan Lea?

4.       Bagian mana dari kehidupan Lea yang dapat anda aplikasikan dalam kehidupan anda sehari-hari sebagai seorang wanita?

 

 

 

Berubah dan Berbuah

Setiap wanita yang telah mengikuti pembinaan wanita bijak modul 1 tentu memiliki tujuan yang sama, yaitu perubahan. Pertanyaannya, bagaimana caranya agar perubahan itu bersifat permanen dan menghasilkan buah bagi orang-orang sekitar? Memang ini tidak mudah dilakukan. Kita membutuhkan pertolongan orang lain untuk dapat senantiasa berubah dan berbuah. Dalam sebuah event pembinaan, kita mudah menerima jamahan Tuhan, tetapi seringkali ketika acara berakhir ternyata perubahan yang diharapkan tidak terjadi. Kegagalan, rasa tidak percaya diri, rasa tidak ada yang mendukung, semia ini menjadi faktor pupusnya harapan akan perubahan. Kita semua membutuhkan proses untuk menjadi dewasa/bertumbuh, dan proses ini tidak dapat dilalui sendirian
Perubahan terjadi saat ktia mengerti firman dan terus mempraktekkannya dalamkehidupan sehari-hari. Dalam pelayanan Wanita Bijak, Modul-2 diciptakan sebagai bentuk follow-up kepada para alumni pembinaan WB modul 1, agar suasana dan semangat belajar dapat terjadi secara terus-menerus. Modul-2 merupakan alat yang menolong kita untuk bertumbuh sekaligus belajar menolong wanita lain untuk bertumbuh pula.

Jadi apakah kita perlu terlibat dalam pemuridan Modul-2? Perlu sekali! Mengapa? Dengan berkomunitas dalam kelompok kecil Modul-2, kita dapat menumbuhkan gaya hidup pembelajaran secara bersama-sama.S elain itu, dalam kelompok kecil Modul-2, kita dapat menumbuhkan gaya hidup pembelajaran secara bersama-sama. Selain itu, dalam kelompok kecil Modul 2 terdapat ibu rohani yang akan terus mengingatkan dan mendorong peserta mempraktekkan komitmen mereka. Ibu rohani bukanlah pribadi yang sempurna, melainkan pribadi yang bersedia menjadi teladan bagi wanita lainnya, baik saat ia menang ataupun saat ia gagal menjadi seorang wanita bijak. Topik yang dibahas dalam kelompok kecil Modul-2 adalah masalah sehari-hari yang nyata, dapat tersentuh dan bisa dipelajari bersama-sama. Karena itu, Modul-2 menjawab pergumulan dan persoalan praktis yang sedang dialami peserta. Disisi lain, Modul-2 ini perlu diusahakan karena pengorbanan wantu, tenaga, uang kita yang begitu banyak di event pembinaan Modul-1 akan sia-saia tanpa follow-up dalam bentuk kelompik kecil (Modul-2). Didalam pembinaan Modul-2 inilah setiap wanita dapat menjadi pribadi yang berubah, lalu membawa perubahan didalam dunianya masing-masing. Bagaimana ini bisa terjadi? Setiap wanita yang dimuridkan dalam pembinaan Modul-2, lalu berubah sampai ke tahap sikap hidunya, akan membawa dampak ke lingkungan sekitarnya. Inilah perubahan yang mengguncangkan dunia, yang membuat iblis gemetar.
“Kita membutuhkan pertolongan orang lain untuk dapat senantiasa berubah dan berbuah”

Kita kadang-kadang kalah bukan oleh hal-hal yang jahat melainkan justru oleh hal-hal yang baik. Hal yang baik menyingkirkan yang terbaik, dan hal yang penting menyingkirkan yang terpenting. Amanat Agung adalah “Pergilah dan jadikan semua bangsa muridKu”. Inilah yang terbaik dan terpenting, yang seharusnya menjadi tujuan terutama dalam proses pemuridan setiap wanita. Kerinduan kami adalah agar alumni pembinaan Wanita Bijak bukan menjadi sekedar “lulusan”, tapi justru menjadi murid Kristus yang menghidupi amanat agung ini.

Pemuridan adalah alat yang akan membawa dampak perubahan yang besar jika kita hidup didalamya, dan pemuridak akan terjadi dengan efektif jika kita lakukan dalam kelompok kecil, bukan dalam event besar saja. Dunia pun mengakui bahwa pemuridan yang difasilitasi dalam sarana pendidikan akan membawa transformasi segala bidang di suatu bangsa. Mari, diawal tahun ini kita tetapkan komitmen dan resolusi yang baru, untuk menjadikan pemuridak Modul-2 sebagai gaya hidup kita, supaya kita dapat menjadi wanita yang senantiasa berubah dan berbuah bagi kerajaan Allah

(Disadur dari workshop rakerwil WB)

Refocusing Guangzhou

Memasuki tahun ke-3 pelayanan Wanita Bijak (WB) di Cina, diadakan re-focusing untuk pelayanan tim WB setempat pada 28-30 November 2013. Tujuan kegiatan ini diadakan agar seluruh tim memahami hal-hal yang mendasar dari pelayanan WB. Dihadapkan kedepannya, seluruh tim semakin memahami esensi/DNA pelayanan WB dan terus mengalami perubahan lewat belajar dan bertumbuh bersama di dalam tim.
Para peserta yang datang merubakan perwakilan tim WB dari kota Guangzhou, Anhui, Shandong, Beijing, dan Shenzen.

Ibu Heryanti Satyadi dan ibu Anna Ho sebagai pembicara bersama dengan ibu Ayfung (tim WB Injili Jakarta) sebagai penterjemah hadir untuk pertemuan re-focusing ini. Hari pertama re-focusing dikhususkan bagi seluruh tim WB di Guangzhou sebagai kota pertama pelayanan WB Cina dimulai. Hari ke-2 dan ke-3 re-focusing dilanjutkan dengan pertemuan tim WB Guangzhou bersama dengan kota-kota lain yang sudah pernah dirintisnya.

Materi pertemuan yang disampaikan adalah memahami visi, misi dan 4 pilar pelayanan WB (Nilai, Esensi, materi dan Teknis pelaksanaan event WB) dikaitkan dengan keberadaan setiap pribadi yang terlibat dalam tim pelayanan WB dikotanya masing-masing sebagai dasar untuk melakukan pengembangan. 3 faktor strategis pengembangan WB (equipping, budgeting dan recruiting) juga menjadi materi yang diberikan,s ehingga setiap kota yang sudah mengadakan pembinaan WB dapat mengidentifikasikan tahap kedewasaan kota dan apa yang menjadi kebutuhan equipping-nya serta target untuk mencapai peningkatan tahap kedewasaannya.

Lewat Refocusing ini diharapkan pengembangan pelayanan WB di Cina dapat menjadi terobosan untuk menjadi lebih kuat dalam pemahaman dan hal-hal yang mendasar dari pelayanan WB (aa)

Paulus : Bertahan dan menang atas penderitaan

Paulus dilahirkan di kota Tarsus, sebuah kota yang terkemuka zaman itu diwilayah kilikia. Tarsus merupakan kota ilmu pengetahuan. Banyak orang pendatang yang belajar disekolah-sekolah terkenal di Tarsus, dan kemudian tersebar ke seluruh bagian kekaisaran Roma. Dikota ini tinggal orang-orang yunani dan orang-orang timur, juga bangsa-bangsa yang lain. Dikota tarsus, paulus mendapat kesempatan belajar tentang cara hidup bangsa yang bukan Yahudi. Itu sebabnya ia memiliki keahlian memperkenalkan Injil Kristus kepada bangsa-bangsa lain dengan cara yang sangat baik.

Dalam sejarah Perjanjian baru, Paulus menjadi tokoh yang penting di dalam kehidupan jemaat mula-mula. Ia dikenal sebagai murid Gamaliel yang sangat berhasil (Gal 1:14, “Dan didalam agama Yahudi aku jauh lebih maju dari banyak teman yang sebaya dengan aku diantara bangsaku, sebagai orang yang sangat rajin memelihara adat istiadat nenek moyangku”). Selain itu, ia dikenal juga sebagai seorang penganiaya umat Tuhan; Paulus menjadi pemimpin diantara orang yahudi, para pemimpin yang lebih tua mundur dan membiarkan kesempatan kepada Paulus menjadi pimpinan pasukan untuk menghancurkan kekristenan (Kisah para rasul 26 : 10-11, “Hal itu kulakukan juga di Yerusalem. Aku bukan saja telah memasukkan banyak orang kudus ke dalam penjara, setelah aku memperoleh kuasa dari imam-imam kepala, tetapi aku juga setuju juka mereka dihukum mati. Dalam rumah-rumah ibadat aku sering menyiksa mereka dan memaksanya untuk menyangkal imannya dan dalam amarah yang meluap-luap aku mengejar mereka, bahkan sampai ke kota-kota asing”).

Saat itu Paulus berpikir bahwa apa yang dia lakukan itu benar, karena ia seorang yang sangat taat kepada ajaran yahudi. Jauh sebelum paulus mengalami perjumpaan illahi dengan Tuhan, ia sendiri telah mengalami keputus asaan secara total ketika ia berusaha menjadi seorang yang baik dan melakukan hukum Taurat. Ia dibesarkan dalam tradisi yang mewajibkan melakukansecara rinci bukan hanya hukum perjanjian lama yang tertulis tetapi juga hukum-hukum tradisional dan kebiasaan-kebiasaan yang tidak berdasarkan otoritas alkitab. Dalam budayanya, mereka menyatakan bahwa orang-orang yang tidak memelihara semuanya itu tidak pernah dapat memperoleh keselamatan penuh.

Paulus tahu bahwa ia tidak pernah dapat melakukannya, oleh sebab itu ia tidak pernah dapat benar-benar mengenal Allah. Meskipun sekali waktu ia pernah merasa optimis, “tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat” (Filipi 3:6). Tetapi jauh di kedalaman hatinya, ia mengetahui ada kuasa yang lebih besar daripada kuasanya sendiri yang sedang bekerja. Ia melihat keberhasilan yang dicapainya pun jauh dari memadai : “Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat” (Roma 7:15). Semakin Paulus berusaha melakukan yang baik, ia menemukan bahwa semakin tidak mungkin dia melakukannya.

Apa yang Paulus lakukan terhadap orang-orang Kristen telah membuat namanya ditakuti khususnya dikota Yerusalem. Kemudian, ia mendapat laporan tentang adanya kelompok besar orang kristen di kota Damsyik. Kota Damsyik, kira-kira 240 km jauhnya dari Yerusalem. Paulus telah diberi kekuasaan penuh dan membawa surat izin untuk menangkap semua orang kristen di kota itu dan mebawa mereka kembali dalam keadaan terbelenggu ke Yerusalem. Paulus dan kawan-kawan membutuhkan waktu enam sampai tujuh hari untuk sampai ke kota Damsyik, mungkin dalam perjalanannya ini Paulus menghabiskan banyak waktu untuk berpikir, ia melihat bagaimana peristiwa Stefanus yang mati dengan begitu tenangnya. Dia tidak dapat melupakan doa Stefanus ketika Stefanus menutup mata. Sementara ia telah merasa melakukanhal yang ia pandang benar, tetapi dia terganggu oleh pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat dijawabnya.

Pertobatan Paulus terjadi ketika ia mendekati kota itu. Pada waktu tengah hari, tiba-tiba sebuah cahaya yang membutakan mata bersinar mengelilingi paulus dan teman-temannya. Ia rebah ke tanah dan kedengaranlah suatu suara berkata kepadanya, “Saulus, saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?” Jawab Saulus : “Siapakah engkau, Tuhan? Katanya :”Akulah Yesus yang kau aniaya itu. Tetapi bangunlah dan pergilah ke dalam kota, disana akan dikatakan kepadamu, apa yang harus kau perbuat.” (Kisah para rasul 9:4-6) paulus berdiri dari tanah dan mendapati dirinya buta.
Beberapa anak buahnya menuntun dia dan membawanya ke Damsyik. Selama tiga hari lamanya tidak dapat melihat dan tidak makan ataupun minum. Pengalaman ini mengubah Paulus sepenuhnya. Sekarang orang Farisi yang sombong ini berubah menjadi seorang yang kesakitan, gemetar, meraba-raba dan bergantung pada tangan orang lain yang menuntunnya sampai ia tiba di damsyik. Ia pergi ke rumah Yudas dan langsung masuk ke kamarnya. Disana ia tinggal selama tiga hari tanpa makanan dan minuman. Selama tiga hari itu Paulus berdoa berpuasa. Seluruh hidupnya telah berubah setelah pertemuannya dengan Kristus. Sekarang dia harus membangun kembali kehidupannya di dalam Kristus

Setelah Paulus dilayani secara pribadi oleh Ananias, ia langsung memulai pekerjaan barunya. Dia mulai berkotbah tentang Kristus dan menyatakanbahwa Kristus adalah Anak Allah. Para rasul Tuhan sangat heran dengan perubahan yang luar biasa pada diri Paulus. Orang-orang Yahudi yang mendengar dia juga merasa tidak percaya bahwa Sauluslah orang yang menyatakan hal itu. Paulus bertumbuh dalam kekuatan dan kuasa selama dia memberitakan Firman Tuhan.

Dalam melakukan pekerjaannya sebagai pemberita Injil, Paulus sangat pandai membawakan injil keselamatan baik kepada orang yahudi ataupun kepada orang-orang yang bukan yahudi. Hal ini berkaitan dengan latar belakang ia dibesarkan dan pendidikannya yang telah ia terima sebelumnya. Bukan itu saja, berbagai penderitaan; keluar masuk penjara, mengalami aniaya fisik (hukuman) serta mental (lewat penghakiman), kapal karam yang hampir merenggut nyawanya, didera penyakit, di kejar-kejar karena ingin dibunuh telah menjadi bagian yang tak dapat dihindari dari kehidupan paulus semenjak ia menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya. Namun, Paulus merupakan pribadi yang bertahan dan menang atas penderitaan karena pemberitaan injil.

Ada 4 hal yang dapat kita pelajari dari pribadi Paulus, bagaimana ia berespon terhadap penderitaan :
Pertama, hidup adalah kristus dan mati adalah keuntungan (Filipi 1:21, karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan”), menunjukkan iman paulus atas apa yang ia hidupi. Kehidupan Paulus menunjukkan bahwa ia pribadi yang senantiasa berjuang menghidupi setiap kebenaran yang ia terima, berapapun harga yang harus  ia bayar untuk dapat menghidupinya akan ia lakukan. Sekalipun kematian ada di dean mata, bagi paulus tidak mengurungkan imannya untuk terus melakukans eluruh perintah Tuhan dalam hidupnya. Belajar dari kehidupan paulus ini, mari renungkan sejenak, apa yang hari-hari ini sedang kita hidupi? Apakah kita masih saja berfokus pada kelemahan diri sendiri ataukan melihat bahwa kesempatan untuk hidup hari ini merupakan kepercayaan yang Tuhan berikan untuak dapat melakukan perintahNya

Kedua, segala sesuatu yang merupakan keuntungan baginya dulu, sekarang dianggapnya rugi (Filipi 3:7-8). Paulus tahu apa yang berharga dalam hidupnya. Paulus tidak lagi mengejar segala sesuatu yang bernilai fana atau lekang oleh waktu. Dalam hal ini bukan berarti Paulus tidak pernah mengalami hidup berkelimpahan, kuncinya ada pada point ketiga dibawah ini. Nah, apa yang paling berharga dalam kehidupan kita saat ini? Harta yang berlimpah? Karir yang gemilang? Keluarga yang harmonis? Jadikanlah Tuhan sebagai satu-satunya yang paling berharga dan membuat hidup kita selalu untung karena semua yang ada di bawah kolong langit ini akan sirna pada waktunya.

Ketiga, Paulus dapat bertahan dalam penderitaan karena ia belajar mencukupkan diri dengan apa yang ia miliki (Filipi 4:11-12). Penting bagi kita untuk belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan, khususnya ketika sedang didera penderitaan, agar kita dapat melihat kasih karunia bekerja secara nyata dalam kehidupan kita.

Keempat, segala perkara dapat ditanggung didalam Dia yang memberi kekuatan (Filipi 4:13). Paulus meyakini bahwa hanya kekuatan Tuhan saja yang memampukan ia melewati setiap penderitaan yang ia alami. Begitu juga dengan kita, ketika berada dalam penderitaan, penting bagi kita untuk menggunakan kekuatan Tuhan karena kekuatan dari Tuhan memampukan kita untuk bertahan dan menang atas segala penderitaan.
(*Disadur dari berbagai sumber)
“Paulus bertumbuh dalam kekuatan dan kuasa selama dia memberitakan Firman Tuhan”

Page 9 of 15

Girl's Talk

Easy to startPembinaan yang diadakan untuk setiap remaja putri sehingga setiap remaja putri bisa mengetahui fungsinya dan menjadi teladan dalam kehidupan mereka sehari - hari.

WB Single

Docs / SupportPembinaan yang di adakan untuk menjawab kebutuhan wanita yang belum menikah sehingga setiap wanita bisa mengetahui fungsinya dan menjadi teladan dalam kehidupan mereka sehari - hari.

WB Ibu

Native RTL SupportPembinaan yang di adakan untuk menjawab kebutuhan wanita yang sudah menikah sehingga setiap wanita bisa mengetahui fungsinya dan menjadi teladan dalam kehidupan mereka sehari - hari.

Free business joomla templates