HomeWise Woman Edisi 20

Article List

Wise Woman

Rapat Kerja Wilayah Wanita Bijak 2013

Dimulai dari rapat kerja (Raker) yang sederhana di tahun 2007, pelayanan wanita mulai semakin berkembang dan semenjak tahun 2008 Raker Wanita Bijak (WB) dilakukan dalam skala nasional, sehingga kemudian disebut dengan Rapat Kerja nasional (Rakernas). Disetiap acara tahunan ini, seluruh Tim Pelayanan mengikuti bebrapa workshop yang diadakan oleh Tim Strategis selaku pemimpin WB untuk melengkapi para Person In Charge dan Head Tim Pelaksana WB Area/kota.

Sejalan dengan apa yang telah disepakati dalam Rakernas WB 2012 mengenai 3 faktor strategis pengembangan (Equipping, Budgeting, Recruiting), maka Rapat Kerja tahun 2013 ini dilakukan dalam format yang berbeda, yaitu Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) yang dilakukan di 3 wilayah dengan tema “Dalam kelemahanku, kuasa-Nya sempurna” (2 Korintus 12:9-10)

Rakerwil pertama diadakan di Wisma Agape. Gadog-Ciawi pada tanggal 1-3 November 2013 dengan jumlah peserta 130 orang yang berasal dari 13 area di Jabodetabek, 7 kota lain di Indonesia, 6 kota di Malaysia danCina. Para pembicara yang hadir dalam Rakerwil pertama ini antara lain; Bapak Eddy Leo, Bpk. Darwin Napitupulu, Ibu Shirley Kiantoro, ibu Heryanti Satyadi, dan Ibu Anna Ho. Dalam Rakerwil pertama ini, Sekretariat Pusat bekerja sama dengan Tim WB jakarta Timur sebagai Tim Pelaksana.

Rakerwil kedua diadakan di Kusuma Argowisata, batu-malang pada tanggal 8-10 November 2013 dengan jumlah peserta 140 orang yang berasal dari Jawa Tengah, jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sumatra Utara, Sulawesi, dan kalimantan Tengah. Para pembicara yang hadir dalam Rakerwil kedua ini antara lain; Bpk. Paulus, Ibu Shirley Kiantoro, Ibu Heryanti Satyadi, dan Bpk. Kaleb Kiantoro. Tim WB Surabaya selaku tuan rumah menjadi Tim Pelaksana untuk pelaksanaan Rakerwil kedua ini.

Rakerwil ketiga diadakan di Cartenz Hotel, Sorong-Papua barat pada tanggal 15-17 November 2013. Dihadiri sebanyak 25 orang berasal dari Jayapura, Sorong, Sorong Selatan, Manokwari, Bintuni, dan Wondama. Para pembicara yang hadir dalam Rakerwil ketiga ini antara lain; Ibu shirley Kiantoro, Ibu Heryanti Satyadi, dan ibu Anna Ho. Dalam Rakerwil ini, Tim WB Sorong menjadi tuan rumah sekaligus Tim Pelaksana,

Perempuan dalam Bencana

Mengawali tahun 2014 ada 3 bencana besar yang dialami bangsa ini; erupsi gunung sinabung, banjir bandang di kota Manado, banjir besar yang melanda ibu kota dan beberapa kota di Indonesia. Akibat dari bencana alam tersebut, ribuan penduduk terpaksa harus tinggal di tempat-tempat pengungsian, menderita sakit, terluka dan bahkan mengalami trauma psikologis yang dalam. Setiap hari tentunya kita menyaksikan berbagai media cetak dan elektonik mengabarkan situasi dan kondisi di tempat-tempat yang dilanda bencana tersebut dan memberitakan upaya-upaya penanganan ataupun bantuan baik yang datang dari pemerintah maupun masyarakat luas.

Rubrik wanita dan Fenomena ini hadir untuk mengispirasi anda para wanita, mwlakukan sesuatu yang sederhana bagi siapapun dan dimanapun anda berada.
Data menyatakan bahwa salah satu pokok permasalahan yang menjadi krusia dalam penanganan bencana yaitu mengenai vulnerabilitas (kerentanan) perempuan dalam menghadapi bencana alam. Dunia tidak bisa menutup mata, bahwa ketika bencana alam terjadi, maka sebagian besar korban yang tewas adalah perempuan (dan juga anak-anak)

Sebagai contoh konkret, berdasarkand ata yang dipaparkan oleh Lorena Aquilar, seorang Senior Gender Adviso untuk IUCN (Internasional union for Conservation of nature), pada bencana Tsunami ditahun 2004 yang melanda aceh (dan sebagai wilayah Asia Selatans ecara lebih luas), sekitar 70% hingga 80% korban yang meninggal adalah perempuan. Sementara dalambencana badai siklon tropis dan banjir besar yang sempat melanda Bangladesh pada tahun 1991, tingkat kematian pada perempuan sangat tinggi, yaitu 71 per 1.000 penduduk. Berdasarkan data statistik yang dihimpun oleh Ikeda K. Dalam Indian Hournal of Gender Studies, 90% dari 14.000 korban yang meninggal karena badai siklon tropis tersebut adalah perempuan. Angka ini sangat mencengangkan. Mengapa tingkat kematian perempuan dalam suatu bencana alam bisa sedemikian tingginya? Karena perempuan memiliki vulnerabilitas yang lebih tinggi terhadap bencana alam; perempuan dijadikan sebagai penjaga utama (primary caretakers) untuk para korban bencana, seperti anak-anak, orang-orang yang terluka dan lansia

Meskipun data diatas berbicara bahwa wanita makhluk yang rentan terhadap bencana, bukan berarti kita tidak dapat melakukan apapun. Saat menulis artikel ini saya terinspirasi oleh teman saya yang melakukan hal yang sangat sederhana pada saat terjadi bencana banjir yaitu ia memasak untuk 40 paket makanan (homemade) khusus anak-anak pengungsi banjir isia batita dan balita diwilayah Keramat jati-Jakarta. Ternyata tindakannya ini menginspirasi teman-teman lainnya untuk melakukanhal serupa di wilayah Karawang dan Bekasi. Apa yang teman saya lakukan ini bukanlah sebuah perbuatan yang spektakuler, sesuatu yang ia biasa lakukan sehari-hari, jumlahnya pun tidak seberapa, namun apa yang ia lakukan lahir dari hati seorang penolong yang pasti menjadi teladan bagi wanita-wanita sekitarnya

Aksi teman saya tersebut jadi mengingaatkan saya akan kisah Ruth, wanita sederhana yang berasal dari keturunan Moab. Ia mengenal Tuhan melalui Naomi ibu mertuanya. Sepanjang kitab Rut, kita dapat melihat cermin Tuhan yang hidup di dalam pribadi Ruth yang sederhana. Berbuat baik, ini yang dilakukannya. Ia pergi meninggalkan bangsanya dan menjadi penolong bagi Naomi. Setiap hari Rut bangun pagi-pagi, memetik bulit-bulir jelai diladang Boas, kemudian membawanya pulang dan dimasaknya untukNaomi. Rut melakukan ini dengan sangat rajin dan tekun. Tahu bahwa saat itu adalah musim menuai jelai, Rut mengambil inisiatif untuk bekerja dan mencari nafkah. Apa yang dia bisa, diusahakannya untuk melayani naomi.

Pelajaran dari kisah 2 perempuan ini, mereka peka melihat situasi disekitarnya dan memakai kemampuan yang mereka miliki untuk memberkati orang-orang disekitarnya, meskipun mereka juga sedang berada dalam situasi yang tidak hauh berbeda dengan orang-orang yang ditolongnya. Jika data mencatat bahwa wanita mahluk yang rentan terhadap bencana, mari ktia melihat dengan kacamata yang berbeda, didalam bencana kita tetap bisa menjadi penolong bagi sesama. Mari renungkan, apa yang bisa anda lakukan untuk orang-orang disekitar anda? Mulailah dari hal yang paling sederhana yang bisa anda lakukan. Ingatlah selalu bahwa Tuhan dapat memakai keunikan kita sebagai wanita, sehingga kita dapat berfungsi dan menjadi teladan.

Apa yang seharusnya kita lakukan dalam kelemahan kita?

Tuhan memberikan kepada kita kepercayaan untuk berada dalam pelayanan wanita bijak; kita yang bukan apa-apa dan siapa-siapa dipilih Tuhan untuk melakukan tugas kerasulan untuk menjadi alat Tuhan untuk membawa para wanita kembali kepada hakekatnya yaitu kepada tujuan pertama Allah menciptakan wanita. Karena Tuhan yang memiliki kita, tentunya Dia memperlengkapi kita dengan berbagai tanda dan mukjizat, tetapi hal itu justru sering membuat kita terjebak pada dosa kesombongan.

Saya menyadari, Tuhan tidak menyukainya, kita tidak boleh sombong. Jikalau kita bisa melakukan pelayanan;bisa dipakai untuk menjadi alat Tuhan memulihkan wanita, bisa bicara di depan umum, bisa mengadakan pembinaan wanita bijak, itu semua bukan karena kita. Ketika kita berhasil dan banyak yang memuji kita, kita tidak boleh sombong tapi kembalikan segala kemuliaan kepada Tuhan, begitu juga sebaliknya ketika kita menemukan diri kita memiliki kelemahan kita tidak boleh mundur, tetap lakukan yang terbaik yang kita bisa lakukan, selama waktu dan kesempatan itu masih ada. Jangan menyerah pada kelemahan karena justru didalam kelemahan kita kuasaNya sempurna.

Saya belajar supaya kita tidak sombong kita harus terus memiliki hati yang mau diajar, mau belajar dan bersedia ditegur, demikian juga dalam tim pelayanan wanita bijak, kita harus punya sikap hati yang lemah lembut dan bersedia berubah apabila teman dalam tim melihat sesuatu yang tidak benar dalam diri kita. Ketika kita menemukan kelemahan dalam tubuh kita, jangan mengeluh dan mundur tapi terbuka kepada rekan dalam tim sehingga bisa saling menguatkan dan mendoakan, karena dengan kita terbuka justru tim menjadi kuat.

Pentingnya komunitas akuntabilitas

Adam dikaruniai Hawa sebagai partner dalam komunitas terkecil pertama di dunia; Nuh bersama keluarganya diberikan mandat untuk melaksanakan misi penyelamatan dunia; abraham melakukan petualangan ketaatan bersama dengan istri dan keponakannya; Musa diberikan harun unutk menemaninya menjalankan misi pembebasan bangsa israel; Tuhan Yesus dalam pelayanan; paulusa senantiasa membutuhkan kerjasama dengan rekan-rekannya dalam perjalanan misinya. Semua tokoh ini berada dan bersama-sama dengan komunitas dalam perjalanannya memenuhi panggilan Tuhan di hidupnya. Apakah anda ingin menjadi pribadi yang memenuhi panggilan Tuhan dalam hidup anda? Tidak ada cara lain, selain berada dalam komunitas.

Komunitas adalah sekelompok orang yang saling bergantung satu dengan yang lain, saling memperhatikan dan saling melayani. Salahs atu cirinya yaitu “saling” terkait satu dengan yang lain. Sepert tema wise woman (WW) kali ini, “dalam kelemahanku, kuasaNya sempurna, “ kita tidak dapat menanggung kelemahan-kelemahan kita sendirian, butuh orang lain untuk menolong kita melihat kuasa Tuhan bekerja atas kelemaan-kelemahan kita.

Seperti halnya naomi yang dapat bangkit dari kesedihanNya karena Rut yang setia melayani dan mengasihinya; Mordekai yang senantiasa mendukung ester. Ester berjuang untuk mordekhai dan bangsa israel; Daniel menguatkan iman sadrakh, Mesakh dan Abednego. Begitu juga sebaliknya tiga sekawan ini mendoakan Daniel di saat-saat sulit. Para tokoh ini tidak akan melihat kuasa Tuhan tanpa pertolongan pihak lain. Siapakah yang dapat menjadi rekan atau komunitas akuntabilitas kita? Tentu saja komunitas rohani, yaitu sekelompok orang yang sama-sama mau belajar dan bertumbuh semakin serupa dengan Kristus.

Mengapa komunitas akuntabilias begitu penting disaat kita sedang merasa lemah?

Komunitas akuntabilitas yang dimaksud adalah hubungand imana kita memberikan izin kepada orang percaya lainnya, untuk melihat ke dapam hidup kita dengan tujuan mempertanyakan, menantang, memperingatkan, memberi nasehat, mendorong, dan timbal baliknya yaitu menyediakan masukan dalam cara yang akan menolong individu tersebut menurut prinsip-prinsip kristen yang mereka pegang (joshua harris,s ex is not the problem, Lust is, 2003 : 154-155). Ketika kita memberi izin kepada orang lain untuk menilik kehidupan kita, hal ini akan membantu kita berfokus tidak lagi pada kelemahan-kelemahan yang kita miliki, tetapi pada rencana Tuhan yang besar yang ia sudah tetapkan dari semula dalamkehidupan kita (yer 29:11)

Setelah membaca artikel ini, kami berharap anda segera bergabung dengan komunitas di dalam gereja lokal ataupun komunitas modul 2 WB agar anda terus bertumbuh menjadi wanita bijak.

 

Dalam Kelemahanku KuasaNya Sempurna

Sebagai wanita, kita memiliki peranan yang penting didalam tubuh Kristus. Dalam pelayanan Wanita Bijak, setiap orang yang terlibat, sekalipun tidak disebut, sesungguhnya sedang melakukan pekerjaan kerasulan. Inilah yang harus kita sadari bersama : kita semua diberikan tugas kerasulan. Kata kunci dari kerasulan adalah diutus untuk membangun rumah Tuhan. Kita diutus (secara khusus) kepada para wanita, untuk membangun mereka agar serupa Kristus. Inilah pekerjaan kerasulan kita dalam pelayanan Wanita Bijak. Ciri yang selalu menyertai pelayanan kerasulan adalah tanda-tanda heran, mujizat-mujizat kesembuhan dan berbagai manifestasi kuasa Roh Kudus.

Karena berbagai tanda ajaib ini, paulus mengingatkan kita secara khusus, “dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri” (2 Kor 6:7)

Mengapa kita tidak boleh meninggikan diri? Musuh dari pelayanan apostolik yang penuh dengan tanda-tanda ajaib ini adalah kesombongan. Karena kesombongan, mudah sekali untuk kita lupa bahwa pelayanan kerasulan harus dijalankan dengan mengandalkan Tuhan sepenuhnya. Ingat, jika bukan Tuhan yang membangun rumah, sia-sialah manusia membangunnya (mzm 127:1), artinya kalau bukan karena Tuhan maka sia-sia saja kita membangun pelayanan ini. Hanya Tuhanlah yang memiliki kuasa apostolik untuk membangun wanita-wanitaNya. Supaya kuasa ini bekerja, Tuhan mengijinkan utusan iblik untuk menggocoh kita supaya kita tidak meninggikan diri. Kesombongan adalah sikap yang tidak mengandalkan Tuhan. Namun utusan iblis yang Tuhan ijinkan menggocoh kita itu adalah bentuk pertolongan Tuhan bagi kita, agar kesombongan kita makin terkikis habis. Utusan iblis itu bisa berupa hal apapun yang negatif, tetapi yang jelas ia akan membuat kita semakin tidak sombong. Misalnya, dalam pelayanan WB atau kehidupan sehari-hari pasti ada saja hal yang membuat kita merasa lemah, tidak mampu, sehingga kita harus mengakui dan mengandalkan kekuatan Tuhan. Apapun yang terjadi, jangan bersungut-sungut, karena ini terjadi dengan maksud Tuhan. Bagaimana kita dapat menerima pembelajaran yang maksimal dalam situasi yang tidak diinginkan ini? Bagaimana ”agar utusan iblis” ini dapat mengikir kesombongan kita? Tetaplah lakukan pekerjaan kerasulan yang Tuhan percayakan.

Mari belajar dari tokoh-tokoh berikut ini yang tetap melakukan pekerjaan kerasulan meskipun di dera penderitaan :
-    Kathryn Kuhlman, seorang wanita yang dipakai Tuhan luar biasa untuk melakukan pelayanan mujizat kesembuhan walaupun Tuhan ijinkan menderita penyakit kanker sampai akhirnya meninggal
-    John Wimber, seorang hamba Tuhan yang dikenal luas dengan karunia kesembuhan walaupun Tuhan ijinkan menderita sampai meninggal karena penyakit kanker mulut
-    John wesley, seorang tokoh kegerakan yang melahirkan gelombang kebangunan rohani terpanjang sepanjang sejarah, walaupun diijinkan Tuhan menderita karena sebuah situasi, yaitu sikap istrinya yang tidak membangun dan selalu membuat susah hatinya. Di hari pemakaman istrinya, John Wesley berkata “Kalau bukan Tuhan ijinkan istriku seperti ini, aku tidak akan bisa dipakai oleh Tuhan untuk melakukan revival seperti ini.”

Tuhan berdaulat dalam setiap situasi, dan itu sebabnya kita harus bergantung kepada Tuhan. Memang tidak mudahbagi seorang wanita untuk melakukan kegiatan/tugas-tugas pelayanan, apalagi kalau suaminya tidak memberikan ijin. Tetapi ingatlah, kelemahan, tantangan ataupun penderitaan ini harus kita syukuri, karena penderitaan-penderitaan ini adalah tanda pembentukan Tuhan yang akan mempertajam kita dalam pelayanan kerasulan

Tokoh-tokoh tersebut mengenali kuasa yang sedang bekerja di dalam kelemahan mereka. Ini sejalan dengan paulus yang mengingatkan jemaat Korintus, “karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng. Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus. Bahkan, jikalau aku agak berlebih-lebihan bermegah atas kuasa, yang dikaruniakan Tuhan kepada kami untuk membangun dan bukan untuk meruntuhkan kamu, maka dalam hal itu aku tidak akan mendapat malu” (2 Kor 10:4-5, 8)

Dalam pelayananWB, kita sedang membangun kerajaan Allah dengan memakai kuasa apostolik yang Tuhan beri ini, yaitu kuasa yang bekerja untuk kita melakukan perjuangan (Bahasa Yunani:strateya). Dengan kuasa ini, kita bisa meruntuhkan benteng-benteng pertahanan yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah, menaklukkan setiap pikiran (logismus:reasoning) yang bukan dari Kristus. Sama seperti kepada tokoh-tokoh tadi, kepada kita juga telah diberikan kuasa untuk meruntuhkan, mematahkan dan menaklukkannya di bawah kaki Kristus. Namun agar kuasa ini bekerja, kita harus memiliki kuncinya, yaitu menjadi lemah, “sebab dalam kelemahanku kuasaNya sempurnya.” Mari, ijinkan Tuhan membawa kita dalam situasi-situasi apapun, walaupun kita merasa tidak mmapu, supaya nyata kuasa yang besar itu bukan berasal dari kita, melainkan dari Dia saja
(Disadur dari Pleno 1 Rakerwil WB Jabodetabek)

Page 10 of 15

Girl's Talk

Easy to startPembinaan yang diadakan untuk setiap remaja putri sehingga setiap remaja putri bisa mengetahui fungsinya dan menjadi teladan dalam kehidupan mereka sehari - hari.

WB Single

Docs / SupportPembinaan yang di adakan untuk menjawab kebutuhan wanita yang belum menikah sehingga setiap wanita bisa mengetahui fungsinya dan menjadi teladan dalam kehidupan mereka sehari - hari.

WB Ibu

Native RTL SupportPembinaan yang di adakan untuk menjawab kebutuhan wanita yang sudah menikah sehingga setiap wanita bisa mengetahui fungsinya dan menjadi teladan dalam kehidupan mereka sehari - hari.

Free business joomla templates