Belajar dalam melayani

“Sekarang Aku tahu mengapa Aku Dinamai Perempuan,” demikian penuturan Frenny.

Belajar dari kehidupan Ribka yang menggunakan kepekaan, saat bertemu dengan Eliezer hamba Yakub. “Menuangkan air bagi 10 untuk itu gak mudah loch. Aku pernah menimba air saat mission trip di lampung, rasa beraaaat banget. Ini Bukanlah pekerjaan mudah,” ungkap Frenny. Dari sana aku belajar betapa luar biasa kehidupan Ribka, hal ini mendorong aku untuk belajar mengembangkan kepekaanku sebagai wanitanya Allah.

Keterlibatanku di Girls Talk, awalnya akrena disuruh oleh pemimpin di area ku. Sebetulnya aku lebih suka bersentuhan langsung dengan peserta, dibandingkan menjadi panitia yang melulu berkaitan dengan hal teknis. Aku sempat merasa jenuh melayani, sampai akhirnya suatu hari lewat seorang pendoa, Tuhan kembali mengingatkan visi yang pernah Tuhan beri dalam hidupku. Jauh sebelum ada di pelayanan Girls’ Talk, aku pernah membaca sebuah artikel yang membahas mengenai kondisi wanita-wanita disuatu negara, mereka dijadikan budak oleh keluarga mereka. Saya tersentuh akan kisah dalam artikel itu, Tuhan juga menaruh hatiNya dalam hidup saya bagi para Wanita Tuna Susila (WTS). Semuanya ini seperti puzzle dalam hidup saya, setelah berada dalam pelayanan Girls’ Talk, saya banyak bertemu dengan wanita-wanita yang Tuhan pulihkan. Saya percaya para wanita ini akan mengubah komunitas mereka di sekolah, di keluarga, dimanapun mereka berada.

Sejak saya berada di pelayanan ini, Tuhan mengubah saya secar pribadi. Dulu saya bersikap cuek terhadap rekan sepelayanan, saya lebih banyak menuntut mereka untuk maksimal dipelayanan tanpa mempedulikan keseharian mereka. Sekarang saya belajar mengembangkan kepekaan saya, dengan memperhatikan rekan sepelayanan saya. (/cc)

 

2018-06-21T06:32:56+00:00