Hubungan kami di pulihkan

Memasuki usia pernikahan kami yang ke 7, keluarga kami mengalami masa-masa kritis. Hampir setiap hari kamu lalui tanpa ada kedamaian dan sukacita. Suami saya seorang yang sangat emosional dan kasar.

Akhir bulan Nov 2004, saya memutuskan untuk meninggalkan suami saya dan kembali ke orang tua saya. Awalnya saya berpikir situasi akan lebih baik jika kami untuk sementara berpisah. karena tidak ada tanda-tanda perubahan dari suami saya, maka pada bulan

Januari 2006 saya mengajukan gugatan cerai ke pengadilan dan hakim mengabulkan gugatan cerai dengan hak asuh perwalian anak jatuh ke tangan saya karena kasus ini murni sebagai kasus kekerasan dalam rumahtangga. Waktu itu saya sangat sedih dan kecewa, tapi saya tidak dapat berbuat apa-apa selain berseru pada Tuhan. Saya katakan kepada Tuhan saya sadar kalau kami bercerai, saya akan menciptakan kutuk bagi keturunan saya, tetapi tidak ada jaminan bahwa segala sesuatu akan lebih baik kalau saya kembali ke suami saya.

Lewat camp Wanita Bijak Tuhan berbicara jelas sekali kepada saya, “AnakKu, pulanglah. Saya sudah menanggungnya.” Walau berat saya belajar taat dan keesokan harinya saya langsung meminta pengacara saya membatalkan proses pendaftaran akte cerai. Yang luar biasa lagi suami saya meminta maaf dan berubah 180 derajat.

Hubungan suami dengan anggota keluarga saya yang lainpun turut dipulihkan (Amsal 16:7) saya mendapatkan bahwa jika saya ingin suami saya berubah, maka perubahan itu harus dimulai dari diri saya sendiri.

Puji Tuhan pertolonganNya tidak pernah terlambat dan kuasa Tuhan hanya dapat dinyatakan lewat orang-orang yang hatinya rindu di pulihkan. (Yuliana, 32 tahun)

2018-06-11T06:45:15+00:00