Mengalami Perubahan

Apa yang muncul dalam benak kita ketika mendengar kata perubahan? Ada yang berkata “Ah.. berubahan lagi… melelahkan…” atau ada yang berkata “Ini dia yang aku nanti-nantikan.. perubahan.. welcome-welcome..” dan ada pula yang berkata “Perubahan? Oh… sungguh menakutkan…!” Begitulah kira-kira respon yang mungkin timbul ketika kita mendengar kata perubahan. Perubahan adalah suatu proses yang normal, yang mau atau tidak mau setiap ktia akan menimbulkan tanda tanya besar, karena kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi ketika mengalaminya.

Memang, tidak mudah untuk mengalami perubahan karena ada segudang alasan yang bisa kita buat yang akan membatasi terjadinya perubahan. Apa yang membuat kita sulit berubah ?

  1. Hidup dalam Zona kenyamanan. Orang yang hidup dalam zona kenyamanan akan merasa cepat puas diri, cukup dengan apa yang ada sekarang. Bukan berarti tidak bersyukur dengan keadaan yang kita alami, namun rasa cepat puas diri tidak akan memacu kita untuk mencapai yang lebih baik lagi. Tidak ada keberanian untuk berubah, dapat memunculkan pikiran-pikiran yang berkata bahwa “saya memang tidak bisa berubah, sudah dari lahir begini, sulit untuk berubah.”
  2. Tidak mempunyai target untuk mengalami perubahan. Banyak wanita yang menjalani hidup ini dengan mengalir saja tanpa membuat target, termasuk didalamnya tidak membuat target untuk mengalami perubahan. Apalagi degnan kesibukan dan banyaknya aktifitas yang dijalani membuat kita tidak pernah berpikir sejenak apakah hidup kita sudah mengalami perubahan dari hari ke hari, dari bulan ke bulan dan dari tahun ke tahun?

Hanya oleh kebenaran Firman Tuhan yang terus menerus dipraktekkan dalam hidup sehari-hari yang akan membuat setiap wanita mengalami perubahan. Ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk mencapai perubahan; hiduplah terus menerus melekat kepada Pokok Anggur, Tuhan kita Yesus Kristus, renungkan kebenaran Firman Tuhan setiap hari dan praktekkan dengan penuh ketaatan. Perhatikan hal-hal penting sebagai berikut :

Jangan pernah gantikan persekutuan pribadi kita dengan Tuhan degnan hal-hal lain sekalipun kelihatannya itu adalah kegiatan rohani, utamakan Tuhan diatas segala-galanya.

Milikilah target setiap tahun untuk mengalami perubahan dan lakukan evaluasi setiap bulannya apakah kita telah mencapai target tersebut atau belum

Hiduplah dalam komunitas yang membangun, jangan hidup dalam komunitas yang meruntuhkan hidup kita. Temukan orang-orang yang bisa menginspirasi hidup kita lewat perubahan-perubahan hidupnya dan bergaul dengan mereka.

Sebuah perubahan dapat diukur dengan sebuah pertanyaan yang perlu kita sendiri menjawabnya : “Apakah perubahan itu dapat dirasakan oleh orang-orang yang ada disekitar kita?” Gunakan raport wanita bijak untuk mengevaluasi apakah hidup kita sudah mengalami perubahan, minta kepada orang-orang terdekat (mama, kakak/adik kandung/rohani) untuk memberikan penilaian.

Tujuan perubahan bukanlah sekedar untuk kebaikan diri kita sendiri tetapi apakah perubahan itu dapat dirasakan oleh orang lain dan dapat mengubahkan diri kita dan orang tersebut, karena orang yang mengalami perubahan hidupnya selalu menarik perhatian Tuhan dan manusia.

Thomas Adams berkata, “Orang yang mereformasi dirinya sudah melakukan banyak hal untuk mereformasi orang lain; dan salah satu mengapa dunia tidak mengalami reformasi adalah karena tiap orang menyuruh orang lain memulainya dan tidak pernah berpikir bahwa dirinyalah yang harus memulai”

Seperti perempuan Samaria yang mengalami perubahan dalam hidupnya ketika berjumpa secara pribadi dengan Yesus, perubahan hidupnya dapat dirasakan dan mengubahkan banyak orang di kotanya, sehingga mereka menjadi percaya kepada Yesus. Dulu saya mudah panik bila menemukan kesalahan didalam pekerjaan, ternyata sebelumnya ada pengalaman traumatis yang pernah saya alami. Suatu hari saya dianggap melakukan kesalahan, menurut saya hal itu bukan kesalahan yang fatal dan keputusan yang diambil dapat dipertanggung jawabkan, hal itu dilakukan didepan banyak orang dan saya merasa dipermalukan. Pengalaman itu membuat saya bertumbuh menjadi wanita yang takut salah, takut gagal dan takut dinilai. Akhirnya saya mudah menjadi panik bila menemukan ada kesalahan yang dilakukan oleh diri saya sendiri ataupun oleh tim yang saya pimpin. Dampak yang lebih jauh adalah saya menjadi orang yang over protective, over control dan selalu was-was. Hal ini berdampak juga kepada tim yang saya pimpin, mereka tidak bertumbuh dalam rasa percaya diri akan kemampuan mereka dan takut salah. Perubahan terjadi dalam hidup saya ketika saya terus merenungkan dan mempraktekkan Firman Tuhan dalam hidup sehari-hari dan Tuhan sembuhkan lewat sebuah peristiwa kecelakaan mobil yang sangat mengerikan yang secara manusia mustahil saya bisa melewatinya, namun bagi Yesus tidak ada yang mustahil. Tuhan tunjukkan kepada saya bahwa bersama dengan Dia saya sanggup melewati masa-masa yang sangat menakutkan dan saya berubah menjadi wanita yang tidak mudah panik, bisa menghadapi setiap kesalahan yang terjadi dengan respon yang benar. Perubahan inipun berdampak kepad tim yang saya pimpin, sehingga mereka bisa menjadi tim yang dapat diandalkan

Oleh Cahyarini Kristanti (Tim WBS Jakarta Timur)

2018-07-30T09:59:08+00:00