Mengejar kasih

Seorang cewek menangis sesenggukan di bangku sebuah kantin. Cowok yang disayanginya habis-habisan selama beberapa tahun terakhir ini ternyata memilih cewek lain untuk dijadikan pasangannya. padahal apa yang kurang dari dia? Semua telah diberikannya bagi sang cowok : perhatian, tenaga, doa, pengertia, bahkan kasihnya dengan segenap hati dan jiwa. Tapi apa hasilnya? Ia malah memilih cewek itu! teman dekatnya sendiri yang tau persis bagaimana isi hatinya terhadap cowok itu, tahu persis bagaimana perjuangannya demi sang cowok itu! Aaaaaarrrrrggggggghhhhh…!!!

‘Tuhan, ini terlalu sakit rasanya…. Tuhan ngerti nggak sih ini sakit banget?”, doa si cewek di sela-sela tangisnya. Ini sudah hari kedua dan tangisnya tidak kunjung berhenti mengalir. Dia tidak sanggup mengikuti pelajaran, tidak sanggup bicara dengan siapapun, tidak sanggup makan, tidak sanggup memikirkan hal apapun yang lain. “Ini sungguh gak adil… Tujuh tahun aku habis-habisan buat dia, tapi ini balasannya…. Dan meski aku lakukan apapun, rasa sakit ini gak hilang… Tuhan ngerti nggak sih rasa sakitku???” “Apa yang kurang ku lakukan selama ini, Tuhan?? Aku sudah berdoa untuk hubungan ini setiap malam. Aku sudah lakukan apapun yang bisa ku lakukan. kanapa Kau biarkan ini terjadi???

Di hari ketiga, si cewek ahirnya curhat kepada seorang sahabatnya. Semua kekecewaan dan sakit hati yang berdarah-darah itu ditumpahkannya, masih dengan air mata yang berderai-derai. Sampai sang sahabat bertanya, “Apa aja sih yang selama ini Tuhan udah berri buat loe?”. Si Cewek pun menjawab, “Banyak, banyak bange. Bahkan semua yang ada di hidup gw, itu Tuhan yang beri..” Lalu sang sahabat mengajukan pertanyaan berikutnya, “Kalo dari loe, apa aja yang selama ini loe udah beri buat Tuhan?” Daaaarrr!!! Pertanyaan ini menghujam jantung sicewek. Seketika, seolah-olah Tuhan sendiri yang datang dan bertanya dihadapannya. Dan hatinya hanya sanggup berbisik pelan, “Aku belum beri apa-apa buat Tuhan…”. Lalu seperti banjir, kata-kata Tuhan mengalir deras dihatinya, “Kamu tau gak? Aku sangat ngerti rasa sakitmu sekarang. Aku pun sudah lama merasakan sakit yang sama, karena Aku juga sudah habis-habisan mengasihi kamu, memberikan segalanya buat kamu, melakukan apapun bagi kamu, tapi kamu malah memilih untuk habis-habisan untuk cowok itu, bukan untuk Aku. Seperti kamu bilang, ini gak adil. Ini sakit dan mengecewakan bagiKu..”

Si cewek baru mengerti ternyata Tuhan sakit hati, kecewa, sedih sama seperti dirinya. Pengertian ini menyembuhkan hatinya. Si cewek pun kembali kembali kepada cowok yang ternyata selama in telah habis-habisan mengasihinya dan setia menunggunya yaitu Tuhan sendiri. ia kembali rajin merenungkan FIrman, menikmati kata-kata cinta dari Tuhan, mengobrol tanpa bosan tentang apapun dengan Dia, tertawa dan bersukacita bersamaNya, menunggu setiap kejutan-kejutan kecil yang disediakanNya setiap hari. ia kembali mengejar kasihnya kepada Tuhan. dan bonusnya, pelan tapi pasti, si cewek akhirnya bisa mengampuni sang cowok yang telah menghianati dirinya.

Cewek dalam cerita diatas adalah saya, bertahun-tahun yang lalu. Lewat pengalaman yang menyakitkan itu, saya jadi mengerti, bahwa kasih perlu diusahakan, perlu diperjuangkan, perlu di kejar. Saya juga jadi ngalamin, bahwa mengejar kasih mendatangkan perubahan buat hati saya, dari yang tadinya pemaran dan nyimpen kesalahan orang lain, jadi terbiasa untuk murah hati dan mengampuni. Saya tau, saya nggak bisa ngomong doang bahwa diri saya adalah orang Kristen, mengasihi Tuhan, dsb, kalo saya nggak mengejar kasih saya ke Tuhan lewat hubungan sehari-hari yang akrab dengan Dia. Saya juga gak bisa ngomong doang bahwa saya mengasihi seseorang dan rela lakukan apapun untuk orang itu, kalo saya gak rela mengampuni dia.

Jadi, kepada siapa kita perlu belajar mengejar kasih? Tuhan Yesus pernah bilang waktu Dia ditanya oleh seorang ahli Taurat tentang hukum manakah yang terutama, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah :Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Mat 22:37-39). Jadi jelas banget, kita perlu mengejar kasih ke Tuhan dan mengejar kasih ke orang lain juga. Dua-duanya sama-sama penting. Kita gak bisa bilang mengasihi Tuhan kalo kita gak mau mengejar kasih ke orang lain. Dan kita juga gak bisa bilang mengasihi seseorang kalo kita gak mau mengejar kasih ke Tuhan. Yuk, sama-sama belajar mengejar kasih, ke Tuhan dan ke orang lain!

oleh Mutiara Yasmin

2018-07-26T02:51:23+00:00