Penggemar atau pengikut

Lukas 9 : 57 – 62

Berbeda dengan para selebritis pada umumnya yang berusaha menarik sebanyak mungkin penggemar dan berusaha memuaskan serta menyenangkan hati mereka, beberapa kali Tuhan Yesus justru menempatkan orang yang berbondong-bondong mengikuti Dia pada situasi yang sulit, di mana mereka harus menentukan sikap, apakah mereka mau menjadi pengikut-Nya yang sejati atau sekadar penggemar atau pengagum-Nya (bd. Luk 14:25-27; Yoh 6:60, 66).

Tuhan Yesus tidak tertarik kepada berapa banyak orang yang mengagumi Dia, tetapi Ia menaruh perhatian kepada level komitmen pengikut-Nya.

Kata “ikutlah Aku” mengandung sebuah konsekuensi, bukan sekedar ajakan ikut tapi panggilan Tuhan Yesus untuk menjadi murid.

Dalam Lukas 9:57-62 ada 3 contoh orang yang nampaknya antusias ingin menjadi pengikut Kristus, namun sesungguhnya mereka tidak lebih dari penggemar atau pengagum Tuhan Yesus. Apa yang menjadi penghalang mereka menjadi pengikut Kristus?

Penggemar pertama : Tidak ada komitmen

Di tengah perjalanan, berkatalah seorang kepada Yesus : ”Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi”. Kelihatannya orang ini sungguh-sungguh mau mengikut Yesus bahkan ke mana pun Yesus pergi. Kemudian Yesus  berkata : ”Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya”. Ketika Yesus membeberkan kenyataan bahwa mengikut Dia sama sekali tidak ada jaminan kenyamanan, bahkan untuk tempat meletakkan kepalanya sekalipun, orang tersebut kelihatannya mengurungkan niatnya. Orang itu hanya sebatas mengemari dan mengagumi Yesus, apalagi pada saat itu Yesus sangat populer, betapa bangganya bisa menjadi murid-Nya (bd. Mat 8:18).

Alkitab mencatat beberapa kali Tuhan Yesus berkata kepada beberapa orang, “Ikutlah Aku”. Dia tidak sekadar menyuruh mereka secara fisik mengikuti ke mana Dia pergi. Ia memanggil mereka untuk menjadi murid-Nya. Kata “murid” secara harafiah berarti seseorang yang berjanji secara serius menjadi seorang “pembelajar”. Bahkan artinya, seorang yang mengikuti ajaran seseorang dan mentaatinya dengan sungguh-sungguh.

Mengikut Yesus bicara komitmen, menjadi murid Yesus menuntut komitmen, bukan asal bicara, bukan sekadar ikut-ikutan, bukan asal-asalan. Menjadi murid Kristus berarti memiliki komitmen menyediakan waktu untuk belajar, komitmen bersedia mengikuti prosesnya, komitmen untuk meneladani Yesus, komitmen untuk  tetap ikut Yesus apapun keadaannya. Banyak orang mengambil keputusan untuk percaya kepada Yesus tetapi tidak benar-benar mengambil komitmen untuk menjadi murid-Nya.

Penggemar ke dua: Tidak ada prioritas

Yesus memanggil orang ini dengan kata-kata yang persis sama yang digunakan Tuhan Yesus ketika memanggil murid-murid-Nya yang pertama: “Ikutlah Aku”, tetapi orang itu berkata: “ Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapaku”. Tentu saja yang dimaksud di sini bukan bapanya saat itu meninggal, karena jikalau demikian, pasti orang tersebut tidak bersama-sama dengan Yesus pada saat itu. Bapa orang itu masih hidup, mungkin maksudnya sudah tua, orang ini meminta waktu sampai orang tuanya meninggal, atau ia juga menantikan pembagian warisan dari ayahnya, barulah ia pergi mengikut Yesus. Bagi Yesus, mengikut Dia begitu pentingnya sehingga tidak dapat ditunda lagi. Dalam bagian lain, Tuhan Yesus menyatakan jika seorang mengasihi ayah ibu, istri, anak-anak, saudara-saudaranya bahkan nyawanya sendiri lebih dari mengasihi Tuhan maka ia tidak dapat menjadi murid-Nya (Luk 14:26).

Mengikut Yesus bicara tentang prioritas. Seorang murid harus memprioritaskan Tuhan lebih dari siapapun dan apapun, jika tidak  ia tidak  lebih dari seorang penggemar.

Penggemar ke tiga: Tidak ada totalitas

Orang ke tiga juga ingin mengikut Yesus, namun ia ingin berpamitan dahulu dengan keluarganya. Mungkin ini adalah sesuatu yang wajar pergi berpamitan dengan anggota keluarga. Yesus berkata : ”Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk kerajaan Allah”. Nampaknya, permintaan orang ini tidak berlebihan, namun perhatiannya terpecah, ia tidak focus lagi. Kata ‘menoleh ke belakang’ mengingatkan kita kepada seorang tokoh di Perjanjian Lama, yaitu istri Lot. Ia harus segera ke luar kota Sodom, dan malaikat Tuhan sudah berpesan untuk tidak menengok ke belakang, namun karena hatinya tidak dapat lepas dari semua harta dan kekayaannya, ia menoleh ke belakang dan menjadi tiang garam.

Bangsa Israel sekalipun sudah keluar dari Mesir, namun pada saat mengalami masa sulit, mereka selalu mengeluh dan mengingat masa-masa perbudakan di Mesir dan membandingkan hidup mereka di masa lalu. Di tengah kesulitan yang datang menghadang, mereka justru merindukan untuk kembali ke Mesir. Ini menunjukkan, sekalipun sudah lepas dari perbudakan, hati mereka masih terikat.

Demikian dengan orang yang ketiga ini, Orang ini tidak sepenuh hati mengikut Yesus, hati dan pikirannya masih memberatkan keluarganya. Mengikut Yesus butuh totalitas, tidak setengah-setengah tetapi sepenuh hati.

Apakah Anda termasuk salah satu penggemar di atas? Pada awalnya, mungkin kita  mengalami jatuh cinta sama Yesus, pernah memiliki komitmen penuh, memberikan prioritas dan totalitas dalam mengikut Tuhan, namun dalam seiring dengan berjalannya waktu, ada waktunya kita mulai mengendur. Dalam kitab Wahyu, Tuhan pernah menegur jemaat Efesus “engkau sudah kehilangan kasihmu yang semula.” Mungkin pertanyaan yang sama Tuhan Yesus sedang tanyakan kepada kita.

Dalam Wahyu 2 : 5,ada 3 hal yang harus kita lakukan adalah : Ingatlah betapa jauh kita telah jatuh, Bertobatlah, dan lakukan lagi apa yang semula kita lakukan.

Periksalah, apakah Anda masih sama dengan waktu pertama kali Anda mengenal dan jatuh cinta kepada Yesus?

(diambil dari kotbah doa Puasa WB Nasional 2012)

2019-02-18T06:10:16+00:00