Perempuan tangguh di Ujung Menteng

Orang miskin dilarang sekolah! ini merupakan pernyataan yang sering ktia dengar di negri ini. Biaya pendidikan yang mahal menjadi momok bagi para orang tua untuk menyekolahkan anak-anak mereka. Belum lagi jaminan akan masa depannya juga kabur. Tak heran, jika sedikit orang dari masyarakat prasejahtera yang mengantarkan anak-anak mereka sekolah pada tahun ajaran baru. Menjadikan anak sebagai komoditi ekonomi akan lebih dipilih ketimbang membawa mereka duduk dibangku sekolah.

Melihat gedung yang berwarna-warni ini, siapa yang menyangka dari dalamnya lahir 959 siswa yang berhasil menyelesaikan wajib belajar selama 12 tahun banyak juga dari kalangan tidak mampu/prasejahtera.

Sekolah yang berdiri sejak 17 tahun yang lalu di wilayan Ujung Menteng, Jakarta Timur ini didirikan oleh seorang wanita tangguh bernama Evita Pontoh. Wanita yang biasa dipanggil dengan sebutan Ibu Evita ini sudah tidak asing lagi di lingkungan pelayanan Wanita Bijak. Ia sering terlibat dalam pelayanan Misi WB, menjangkau para wanita di pelosok-pelosok negeri. hatinya memang sudah terpatri sejak dulu untuk melayani Tuhan sepenuh waktu, itu sebabnya ia memilih jalur Teologi.

Menjadi hamba Tuhan di dalam gedung gereja saja tak cukup baginya, bersama suami – Pdt. Theo barahama, beliau terpanggil untuk melayani anak-anak yang berada disekitar lingkungan gerejanya. Anak-anak itu tak berpendidikan, tidak sedikit bahkan yang putus sekolah. Mendapat pendidikan rohani disekolah minggu saja, rasanya tak cukup. Mereka perlu sesuatu untuk berubah dan alat perubahan itu namanya PENDIDIKAN. Dengan fasilitas yang seadanya mereka mulai mengumpulkan anak-anak yang kurang mampu. Hingga saat ini pun mereka masih memprioritaskan anak-anak yang datang dari golongan ke bawah/prasejahtera. Ibu Evita dan tim memiliki kerinduan untuk memiliki sekolah yang murah, namun bagus kualitas pendidikannya.

Ada banyak proses yang harus dilewati ibu Evita bersama dengan timnya selama tujuh belas tahun ini; Komunikasi dengan orang tua murid menjadi kendala yang seringkali ditemui. Namun, hal ini tidak mematikan semangat ibu Evita dan tim, mereka memiliki visi : Menjadi komunitas pembelajar yang cerdas dan berkarakter Kristus untuk menggenapi kehendak Tuhan pada jamannya dan motto : Bersama orang tua mendidik dengan teladan. Visi dan motto ini yang terus menjadi pembangkit semangat untuk terus berkarya dan menjadi berkat bagi anak didik yang Tuhan kirimkan.

Dalam proses perintisan, ibu Evita dibantu oleh tenaga full timer gereja dan jemaat yang terpanggil untuk melayani di bidang pendidikan. Ditahun 2000, mereka mulai mengumpulkan anak-anak usia pra sekolah sebanyak 21 anak dengan 3 tenaga pengajar. Menanamkan visi-Misi dan nilai-nilai sekolah secara terus menerus menjadi cara ampuh untuk menyatukan seluruh tim yang terlibat didalamnya.

Tentunya program pendidikan ini tidak berjalan dengan sendirinya. Oleh tangan Tuhan, jemaat digerakkan untuk memberi bagi pelayanan pendidikan ini. Hingga saat ini, proses pendanaan pun masih mendapat dukungan dari jemaat GPDI Ujung Menteng dan beberapa donatur yang rindu terlibat untuk melayani bersama setelah mereka berkunjung ke sekolah tersebut. Menurut ibu Evita sendiri, ada satu pengalaman yang tak terlupakan baginya yaitu ketika proses pembangunan gedung SMP sedang berlangsung. Waktu itu dicanangkan gerakan seRibu untuk seMilyar. Ketika hal ini disampaikan juga kepada seluruh anggota sekolah, murid-murid secara inisiatif dan dengan sukacita ikut mengumpulkan dana. Mereka rela tidak jajan untuk mengumpulkan dana bagi pembangunan sekolah. Memang sejak sejak awal, sekolah ini tidak memungut sepeserpun uang pangkal untuk gedung. Gedung yang berdiri megah beserta fasilitas-fasilitas didalamnya merupakan hasil pengorbanan yang diberikan jemaat, orang tua, guru dan para murid sendiri. Dan sudah pasti hasil lutut yang bertelut dan tangan yang terkatup setiap saat kepada Tuhan.

Saat ini sekolah CAHAY BANGSA sudah menghasilkan 17 angkatan di Taman Kanak-kanak, 11 angkatan ditingkat Sekolah Dasar, 7 angkatan di tingkat Sekolah Menengah Pertama, dan 1 angkatan CBSOM (Cahaya Bangsa School of Music – Sekolah kejuruan dibidang music setingkat SMU). Fasilitas-fasilitas yang dimiliki antara lain : Ruang kelas, laboratorium komputer, laboratorium IPA, Perpustakaan, studio musik, aula, lapangan, seluruhnya dapat menampung 257 siswa dan tenaga pengajar yang dimiliki berjumlah 40 orang.

Tidak berhenti sampai diujung menteng saja, ditahun 2012 ibu Evita kembali merintis sekolah Cahaya Bangsa di wilayah Tuapejat, kepulauan Mentawai – Sumatera barat. Dimulai dengan 6 orang siswa dan 1 orang guru,s aat ini mereka sudah memiliki 176 siswa dan 17 guru untuk Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama

Bu Evita memiliki kerinduan menjadikan sekolah Cahaya Bangsa sebagai sarana bagi anak-abak untuk dipersiapkan menjadi generasi anak bangsa yang mengasihi Tuhan dan sesama. Melalui sekolah ini diharapkan anak-anak dapat menyadari bahwa mereka semua adalah utusan Krsitus, kelak mereka menjadi dewasa, bekerja/mengabdi dibidang apapun dapat mereka lakukan dengan nilai-nilai kebenaran dan kejujuran sehingga mereka menjadi pembawa pembaharuan dalam hal mental, spiritual, karakter dan pemberi dampak bagi kemajuan bangsa ini. Sebagaimana terkamtub dalam Misi Cahaya bangsa yaitu memfasilitasi komunitas pembelajar untuk :

  • Mengalami proses pembaharuan pikiran
  • Mengembangkan kemampuan intelektual yang berpusatkan Kristus
  • Menjadi utusan Kristus

F/D

2018-06-11T04:06:25+00:00