Susanna Wesley Ibu yang melahirkan pemimpin-pemimpin rohani

“Aku lebih banyak mengenal kehidupan Kristiani dari ibuku, daripada dari para ahli Theologi diseluruh Inggris” John Wesley

Susanna Wesley adalah ibu dari John dan Charles Wesley, tokoh kebangunan rohani yang memberikan kontribusi besar terhadap penginjilan dan sejarah Gereja.
Susanna yang telah melahirkan 19 orang anak, memiliki pola asuh yang luar biasa, dengan disiplin yang tinggi dan kesabaran serta kasih. Ia tidak hanya menjadi seorang ibu jasmani bagi anak-anaknya, iapun berperan sebagai ibu rohani bagi mereka.
Ia mendidik dan mengajar setiap anaknya untuk memahami dan menghidupi kebenaran Firman TUhan.
Hasil nyata dari kesetiaan dan kedisiplinan yang diterapkannya nampak dalam kehidupan John dan Charles Wesley yang mengguncang dunia dengan kegerakan rohani yang dipimpinnya. Kutipan kalimat John Wesley diatas menggambarkan betapa hebat kualitas rohani seorang Susanna Wesley.

Susanna lahir dari pasangan Dr. Samuel Annesley dan Mary White, ia anak bungsu dari 25 bersaudara yang lahir pada 20 Januari 1669 di Inggris. Susanna tidak pernah memiliki kesempatan untuk mendapatkan pendidikan formal, karena pada saat ituInggris hanya menyediakan sekolah bagi anak laki-laki, namun dengan penuh ketekunan ia belajar di perpustakaan pribadi milik ayahnya dan belajar dibawah bimbingan orang tuanya. Hasilnya, pada saat berusia 13 tahun, ia sudah bisa membaca dalam tiga bahasa yang cukup penting yakni bahasa Inbrani (Bahasa Perjanjian lama), Bahasa Yunani (Bahasa Perjanjian Baru) dan bahasa latin (Bahasa Alkitab septuaginta). Sejak kecil Susanna sudah dibekali dengan prinsip-prinsip firman Tuhan dan itulah yang terus dia pegang dan lakukanketika sudah berkeluarga

Susanna Annesly menikah pada 11 November 1688 dengan Samuel Wesley, seorang mahasiswa theologia yang terkenal pandai dan cerdas. Sebagai istri pendeta, Susanna tampaknya tidak ingin berdiam diri, ia sangat merindukan anak-anaknya menjadi besar dan berhasil sebagai anak-anak kristen. Selain mengatur dan menjalankan perannya sebagai ibu rumah tangga sehari-hari, ia juga membantu suaminya mempersiapkan kotbah-kotbah dan membantu mengingatkan jadwal kunjungan.
Iapun berusaha sendiri untuk mencukupkan kebutuhan keluarga dengan berladang, memelihara sapi perah, ayam yang menghasilkan telur dan ternyata berkat Tuhan senantiasa cukup sehingga mereka tidak pernah sampai merasa kelaparan.

Perannya sebagai ibu dan ibu rohani
“Tidak ada yang lebih saya harapkan selama hidup ini kecuali melayani anak-anak yang telah saya lahirkan. Saya mau apabila ini berkenan bagi Allah, menjadi alat-Nya melakukan semua yang baik bagi jiwa-jiwa mereka,” itulah harapan dari Susanna.
Dalam segala keterbatasan finasial yang mereka alami, dia tetap berjuang untuk mendidik dan membesarkan anak-anaknya.

Apa yang dapat kita pelajari dari kehidupan Susanna dalam mendidik anak-anaknya?

– Disiplin dan rutinitas

Susanna selalu menyusun jadwal harian dan segala yang dikerjakannya dengan  seksama : bangun tidur, belajar, makan, doa keluarga, waktu tidur, dsb.
Hal itu diterapkan pula dalam hidup setiap anaknya. ia menuliskan :”Anak-anak selalu diarahkan pada pola hidup teratur, dalam hal-hal yang sanggup mereka lakukan sejak lahir, seperti mengganti baju, mengganti sprei, dll…”

Disiplin yang diterapkannya dalam batas “hal-hal yang sanggup mereka lakukan” menunjukkan bahwa ia adalah seorang ibu yang peka, yang menyadari keterbatasan anak-anaknya
– Melatih anak-anaknya dengan setia
Susanna menyediakan ruang belajar khusus untuk mengajar anak-anaknya enam jam sehari (jam 9-12 lalu jam 2-5). Ia selalu memberi tugas membaca kepada anak-anaknya satu pasal dalam perjanjian baru untuk bacaan pagi dan satu pasal perjanjian lama untuk bacaan malam, dan membaca mazmur dua kali setiap hari.
Ia sangat yakin bahwa tidak ada buku yang setara dengan Alkitab dalam mendidik anak-anak ataupun orang dewasa dalam pertumbuhan rohani.
Ia mulai mengajar anak-anaknya membaca pada usia lima tahun, bahkan melatih mereka menulis puisi dan musik, serta mempelajari bahasa yunani dan Ibrani setiap malam bersama ayah mereka.
Pada suatu ketika, John sangat sulit mengerti satu pelajaran yang diajarkan Susanna, suaminya mulai kesal dan marah melihat kelambanan John untuk memahami sehingga berkata “untuk apa kau ajari dia pelajaran yang itu-itu juga sampai seratus kali?”, namun dengan lembut Susanna berkata :”karena sudah 99 kali diajari, dia belum mengerti juga.”

Selain mengajarkan mata pelajaran akademis, Susanna juga melatih mereka menjadi anak-anak yang patuh dan berperilaku baik. ia mengajar mereka sejak usia satu tahun untuk takut pada tongkat didikan, hormat pada otoritas, dan melatih penguasaan diri dalam mengungkapkan emosi mereka. Susanna selalu ingin memastikan bahwa anak-anaknya memiliki pengertian yang mendalam akan kekristenan dan kehidupan.
Dia berjuang untuk memahami setiap anaknya secara pribadi

– Disiplin bersaat teduh
Sudah sejak usia lima tahun Susanna berkomitmen untuk memiliki waktu doa dan membaca Alkitab sama banyak dengan waktu santainya. Namun ketika sudah berkeluarga dan melahirkan anak-anaknya, waktu pribadinya banyak berkurang, sehingga ia mengubah komitmennya menjadi : dua jam sehari, tapi tambah enam jam sehari untuk mengajar anak-anaknya! jadi delapan jam sehari ia khususkan untuk belajar dan mengajar!
Belum lagi waktu makan, mengurus kesepuluh anaknya yang hidup dari 19 yang ia lahirkan, mengurus pekerjaan rumah tangga dimana diabad 17 yang semuanya masih dikerjakan dengan tangan

Sebenarnya ada begitu banyak peristiwa-peristiwa di masa-masa sulit yang dihadapi oleh rumah tangga Susanna dan Samuel, mereka dua kali mengalami kebakaran rumah yang hampir merenggut nyawa salah satu anaknya, belum lagi masalah hutang yang melilit mereka, sehingga suaminya harus dipenjara. Namun itu semua tidak dapat melemahkan iman dan perjuangannya sebagai seorang ibu dan istri pendeta dan kerinduannya untuk melayani Tuhan. Setiap minggu ia juga mengajar anak-anak sekolah minggu dan ketika suaminya pelayanan keluar kota, ia memakai kesempatan untuk mengumpulkan orang-orang untuk bersekutu dan mengajarkan firman Tuhan.
Setiap minggu hampir dua ratus orang yang ikut dalam persekutuan itu, keberhasilannya menimbulkan iri hati pendeta pengganti suaminya dan suaminya sendiri tidak setuju dengan yang dilakukan istrinya.
Kegigihan, kedisiplinan dan ketaatannya terhadap firman Tuhan juga pendidikan iman dan kerohanian yang telah diberikan kepada anak-anaknya tidaklah sia-sia tetapi membuahkan hasil, anak-anak Susanna menemukan panggilan hidup masing-masing dan dua diataranya menjadi tokoh mendiri gereja yaitu John Wesley dan Charles Wesley.
John pendiri gereja Methodist sedang Charles seorang musisi musik gerejawi yang telah menciptakan ribuan lagu-lagu rohani yang masih dinyanyikan di gereja sampai hari ini.
Dan inilah salah satu kutipan tulisan Susanna tentang mendisiplin anak :”Untuk membentuk pola pikir anak-anak, hal pertama yang harus dilakukan adalah menaklukkan keinginan mereka dan membawa mereka kepada temperamen yang taat.
Memberikan pengertian hanyalah merupakan usaha seumur hidup, dan terhadap anak-anak harus diberikan dalam skala yang bisa mereka terima; tapi menundukkan keinginan harus dilakukan sesegera mungkin, dan semakin cepat semakin baik, sebab jika koreksi sikap diabaikan beberapa saat saja, maka anak-anak langsung membentuk pola keras kepala dan mementingkan diri sendiri yang akan sangat sulit sekali dikalahkan, dan tidak akan pernah bisa dikalahkan tanpa kekerasan yang menyakitkan bagi saya, juga bagi sang anak.
…..Dan jika keinginan sang anak telah sepenuhnya ditundukkan, dan digantikan dengan rasa hormat dan segan pada orang tua, maka akan banyak sekali kebodohan dan kecerobohan anak-anak yang akan terlewati.”

Tahun 1742 pada usia 73 tahun, ia meninggal dunia. Susanna Annesley Wesley dikenang sebagai ibu yang memiliki peran dalam mengubah dunia,
memberikan pengaruh pada zaman itu dan sampai sekarang dapat memberikan inspirasi dan memotivasi para orang tua khususnya ibu-ibu kristen dalam peranannya sebagai istri dan ibu untuk anak-anaknya.

2018-05-13T19:34:50+00:00