Taat dan Setia

Saya bertanya kepada seorang biarawati yang bekerja di rumah Mother Theresa tentang bagaimana caranya supaya dapat menjadi seperti Mother Theresa. Ia menjawab, “Theresa cuma berdoa dan taat,” setiap menit dari waktunya ia persembahkan kepada Yesus “Siapapun dapat manjadi seperti dia karena ia seperti Yesus, dan Yesus rindu bahwa ktia masing-masing menjadi seperti Dia.” .. Lori Saliermo

Menjadi seperti Yesus itulah tujuan akhir dari perubahan yang kita alami. Saya mempelajari bahwa wanita yang tidak memiliki kualitas hubungan yang berkualitas dengan Tuhan, akan sulit mengalami perubahan. Untuk mencapai perubahanitu sendiri, ada 3 hal yang dapat kita lakukan :

  1. Bertumbuh dalam hubungan dengan Tuhan Yesus secara personal. Untuk kita bertumbuh dalam hubungan dengan Yesus kita harus mengenal Dia melalui FrimanNya, karena hanya didalam FirmanNya ada Kebenaran dan Kebenaran itulah yang memerdekakan kita (Yoh 8:32). Banyak Wanita ingin berubah namun memilih jalan pintas dengan mengikuti : seminar, KKR, training, dan berbagai cara lainnya dengan harapan setelah mengikuti program-program tersebut mereka dapat langusng mengalami perubahan. Tentunya sama sekali tidak salah mengikuti acara/kegiatan-kegiatan tersebut tetapi perubahan bukanlah sekedar kita mengikuti acara. Perubahan adalah suatu proses (Perjalanan) dan kita harus menjalaninya dengan konsisten
  2. Dalam proses perubahan kita butuh belajar dari wanita lain. Titus 2:3 megnatakan bahwa “perempuan yang tua hendaklah cakap mengajrkan hal-hal yang baik dan mendidik perempuan muda untuk mengasihi suami dan anak-anaknya, hidup bijaksana dan suci, rajin mengatur rumah tangganya baik hati dan taat kepada suaminya.” Firman ini sangat kontekstual dalam kehidupan berumah tangga. Saya menemukan para suami yang kesulitan dalam mengajar istrinya. Ketika wanita berada dalam kelompok pembelajaran bersama akan terjadi perubahan, karena ia diajar oleh wanita tua (dewasa rohani) dengan memberi contoh/teladan nyata… Hal ini membuat proses (perjalanan) perubahan itu terasa lebih ringan, karena ada orang yang memberi pertanggungjawaban dari perubahan yang kita alami
  3. Membagi hidupnya dengan wanita lain. Wanita cenderung berfokus pada dirinya sendiri sehingga tidak peka akan kebutuhan orng-orang disekitarnya. Sikap ini dapat mempengaruhi pertumbuhan rohaninya, mereka diumpamakan seperti laut mati, mengandung banyak garam (mengetahui banyak firman) tetapi didalamnya tidaka da kehidupan. Padahal kita tahu kebenaran Firman Tuhan itu memerdekakan dan menolong menyelamatkan wanita lain seperti tertulis di Yakobus 5:19-20, “Jika ada diantara kamu yang menyimpang dari kebenaran dan ada seorang yang membuat dia berbalik ketahuilah bahwa barangsiapa membuat orang berdosa berbalik dari halan yang sesat, ia akan menyelamatkan jiwa orang itu dari maut dan menutupi banyak dosa.”

Berikut penuturan salah satu anggota kelompok pembelajaran bersama saya yang mengalami perubahan setelah melakukan 3 hal diatas :

Ketika berada dalam kelompok ini sempat ada kesombongan di hati, karena merasa sudah banyak tahu Firman. Saya sudah berulang kali membina, bahkan pernah dipercayakan sebagai pembicara. Pikiran saya berkati, “Ini seperti memulai lagi dari awal, mengapa saya harus mengulang lagi?.” Lalu Tuhan mengingatkan “ada pribadi yang mau memberi diri, waktu dan doa untuk saya. Mengapa saya tidak mengambil kesempatan ini untuk belajar dari mereka?.”

Setelah mengikuti kelompok pembelajaran ini, semakin hari saya semakin antusias. Dulu saya membaca Firman hanya sebgai rutinitas/kewajiban saja, sekarang saya menabur karena pengharapan dan bukan karena kewajiban ataupun rutinitas. Saya semakin mengagumi Firman Tuhan dan Allah yang hidup. Tuhan pun menraruh visi bahwa saya adalah tiang doa untuk suami, keluarga, pelayanan dan orang-orang disekeliling saya. TUhan mau agar saya dapat mengimpartasikan visi wanita sebagai tiang doa ini kepada setiap wanita dalam pelayanan saya.

Saat akan memulai kelompok belajar bersama yang baru, ada rasa takut ditolak sehingga hati merasa tidak tenang. Satu hal yang Tuhan ingatkan, saya maju bukan karena saya hebat, mampu atau karena saya fasih bicara. Saya jadi teringat dengan ibu Verena, sebenarnya ia pun tidak fasih berbicara, tetapi Tuhan memakai dia secar dahsyat karena hati dan kecintaanNya akan firman Tuhan membuat hidupnya menjadi berkat bagi wanita lain. Akhirnya saya membuat keputusan untuk melangkah, TUhan yang berkehendak dan saya hanyalah alat yang TUhan pakai. Tanpa saya sadari kelompok baru ini sudah berjalan 1 bulan, saya semakin bersukacita melihat wanita-wanita dalam kelompok ini mulai mengalami pertumbuhan dalam hal hubungan mereka dengan Tuhan. Mereka berkomitmen menjadikan Allah sebagai prioritas, banyak mujizat dan pemulihan terjadi. Saya percaya setiap benih yang ditabur tidak akan sia-sia. Ketika ibu verena menabur hidupnya untuk kami, ia punya iman bahwa kami akan mengalami perubahan. Begitupun saya percaya bahwa ketika saya taat dan setia, saya akan mengalami perubahan.

(Vivi, alumni pembinaan modul 1 WB Jakarta utara)

2018-07-30T06:45:24+00:00