Teladan Itu Nyata dan Terasa

Jika ada seseorang bertanya kepada kita begini : “Apakah engkau mau menjadi teladan bagiku?” Kita tentu akan berpikir, “apakah aku sudah mampu menjadi teladan?” rasanya kog belum, rasanya banyak yang harus diperbaiki sebelum mampu untuk menjadi teladan. kalau itu yang ada di pikirankita, saya ingin memberitakan kabar baik yaitu bahwa saya dan saudari semua sama (ternyata!). Kalau seandainya boleh memilih pilihan yang lebih mudah yaitu tidak perlu menjadi teladan, hidup biasa-biasa saja, tidak perlu susah-susah berusaha… pokoknya aku kan sudah bersyukur? Menjadi teladan bukan pilihan, sekali lagi …. menjadi teladan bukanlah suatu pilihan tetapi keharusan

Melanjutkan pertanyaan pertama diatas, jika orang yang menanyakan hal itu adalah Yesus, bobot pertanyaannya akan dipadankan dengan kebenaran Alkitab (even worse kan?). Mungkin kita akan bereaksi begini : ‘wadow, boro-boro jadi teladan buat orang lain, wong ngatur diri sendiri aja susah banget’, sudah begitu keteladanan kita kemudian dipadankan juga degnan kebenaran Alkitab (walah tambah susah ya..)

Bagi teman-teman single yang sudah pernah ikutan Pembinaan Wanita Bijak Single, mungkin masih ingat apa alasan kita menjadi teladan. Jawabannya adalah karena tujuan hidup kita adalah memuliakan nama Tuhan, yang menciptakan dan menebus kita dari hidup yang sia-sia.

Masih ingat nggak waktu kita menyerahkan hidup kita pertama kali kepada Kristus? pada saat itulah kita mulai hidup dengan standar Allah sendiri. Ada satu kejadian yang menemplak saya yaitu waktu ada orang yang berkomentar seperti ini : ‘Orang kristen kog begitu kelakuannya!’ (sound familia?), mengapa demikian? Karena kita dinilai dengan standar tertinggi yaitu Alkitab. Bahkan orang yang belum menjadi anak Tuhan pun tahu bahwa menjadi standar yang diterapkan bagi kita anak-anak Allah berbeda dengan standar hidup di dunia ini.

Masih berpikiran bahwa menjadi teladan adalah pilihan?? Think again!!

Seperti orang-orang lain, saya juga orang  kebanyakan (yang tidak terkenal) setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, sama seperti orang lain saya juga berusaha mencari pekerjaan untuk membiayai hidup sehari-hari. Disetiap perusahaan dimana saya bekerja, saya selalu bertanya-tanya apakah saya sudah memberi lebih dari yang diminta oleh atasan? Contoh sederhana : saya pernah telat memberikan laporan yang diminta oleh boss gara-gara saya malas dan menunda-nunda pekerjaan sehingga akhirnya proyekpun hilang dari genggaman Jangan ditiru, bukan cara bijak untuk menunjukkan kalau kita ini anak Tuhan!!). Terus juga pernah juga datang ke kantor terlambat beberapa kali, akhirnya saya tidak konsentrasi sepanjang hari itu karena terburu-buru. (ini juga bukan teladan yang baik)

Saya belajar, dengan perjuanganyang panjang dan terus menerus, bahwa menjadi teladan adalah suatu proses. Menjadi teladan tidak berarti kita harus sempurna dulu baru menjadi teladan, bahkan proses perubahan kita dapat menjadi teladan bagi orang lain. Didalamnya terdapat proses menemukan, mencari Tuhan saat kita ragu-ragu dengan keputusan-keputusan kita, mempertanyakan tindakan-tindakan yang telah kita lakukan, dan memadankan terus menerus hidup kita dengan standar Allah.

Sekarang saya lebih menyadari lagi bahwa setiap tindakan, perkataan atau kelakuan saya sangat mempengaruhi orang lain. Alangkah ruginya jika Tuhan menempatkan  kita pada posisi strategis, tetapi tidak digunakan bagi kemuliaan namaNya. Setiap promosi jabatan yang saya terima adalah bagian dari kepercayaan Tuhan kepada saya untuk menjadi teladan bagi orang di sekitar saya, kesempatan untuk memberikan yang terbaik bukan hanya untuk boss kita tapi yang teristimewa buat Dia. Teladan yang kita berikan bukan hanya menyenangkan hati Tuhan tetapi membuat kita sendiri penuh dan komplit, suatu perasaan yang tidak dapat dituliskan dengan kata-kata, hanya untuk dirasakan.

Saya akan menutup artikel ini dengan banyak pertanyaanyang akan menolong kita melalui jalan-jalan sulit itu (but teally really worthed)

  • Maukan kita menjadi teladan ?
  • Beranikah kita menjadi teladan bagi orang lain ?
  • Sudahkah kita memberikan yang terbaik dalam pekerjaan kita, lebih dari yang diminta?
  • Tidak ada seorangpun yang sempurna dalam hal ini, tetapi kita perlu mengusahakannya, melatihnya dengan komitmen terus menerus untuk tetap hidup sesuai dengan standar Allah
  • Maukah kita mengambil keputusan-keputusan sulit untuk menjadi teladan bagi orang lain?
  • Apakah kita rela melepaskan hal-hal yang “OK” menurut kita, tetapi di hati kita tahu bahwa itu tidak berpadanan dengan nilai-nilai dan kebenaran Firman Tuhan?
  • Bagaimana kita memandang tujuan hidup kita ?
  • Relakah kita memberikan waktu, kreatifitas, dan hidup kita supaya dapat diteladani oleh orang lain?
  • Bersediakah kita menukar kenyamanan kita supaya nama Tuhan ditinggikan dan menjadi prioritas?

Akhirnya saya sungguh-sungguh bersukacita jika teman-teman mengambil keputusan untuk menjadi teladan bagi kemuliaan namaNya (believe me, it’s really really worthed)

Semuanya dari Dia oleh Dia dan bagi Dia

2018-07-16T09:26:14+00:00