The Christian

Di kota Anthiokialah untuk pertama kalinya kumpulan orang percaya disebut Kristen. (Kisah para Rasul 11:26). Mereka mendapat sebutan demikian karena mereka mempraktekkan kasih satu sama lain, hidup dalam kasih karunia yang berlimpah-limpah, dan hidup dalam kebenaran. Karena itu, orang-orang menyebut mereka Kristen yang artinya “mirip Kristus” karena mereka menyadari kehidupan yang mereka jalani serupa kehidupan Yesus Kristus

Memiliki karakter dan nilai-nilai hidup seperti Kristus bukanlah perkara yang mudah. Namun, bukan berarti kita tidak bisa memilikinya. Satu-satunya cara yang bisa kita lakukan adalah dengan memberi diri dimuridkan, “dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Matius 28:20)

Untuk bisa mencerminkan kehidupan Tuhan, tidak cukup dengan datang ke gereja dan mendengar kotbah, kita harus diajar untuk melakukan. Ajaran Firman Tuhan dan teori saja tidak cukup untuk membentuk karakter kita, kita harus diajarkan untuk melakukan dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Kita membutuhkan contoh dan dorongan dari kehidupan orang lain.

Apakah yang seringkali membuat kita gagal memiliki karakter Kristus ?

  1. Pergaulan
    Amsal 13:20
    Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang.
    Pergaulan kita akan menentukan seperti apa kehidupan kita, kalau selama ini hidup kita selalu ditimpa kemalangan, coba periksa lagi dengan siapa kita bergaul, karena jika kita bergaul dan belajar dari orang yang bijak maka hidup kita tidak mungkin akan terus menerus ditimpa kemalangan
    Memilih bergaul dengan orang yang bijak bukan berarti kita harus bersikap sombong dan tidak mau kenal orang lain, kita tetap harus ramah dan menghormati orang lain. Tetapi kita juga harus memilih dengan baik teman-teman terdekat kita, orang-orang yang kita biarkan berada di lingkungan terdekat kita dan mempengaruhi hidup cara berpiki dan cara hidup kita.
  2. Pengajaran
    Amsal 12:1
    Siapa mencintai didikan, mencintai pengetahuan; tetapi siapa membenci teguran adalah dungu

    Kita cenderung lebih suka mendengarkan pengajaran-pengajaran yang memuaskan hasrat hati kita, dibandingkan pengajaran-pengajaran yang mengandung teguran. Bahkan tidak jarang kita membenci orang yang menegur/menasehati kita. Alkitab mengatakan, siapa yang membenci tegurana dalah dungu

    Jika kita mau mengalami memiliki hidup sama seperti Kristus hidup, maka jadilah orang yang mencintai teguran

  3. Perkara hati
    Yesaya 50:4
    Tuhan Allah telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid
    Telinga dan lidah seorang murid merupakan pemberian Tuhan kepada kita, kedua panca indra ini dikontrol oleh hati kita. Apa yang kita katakan dan dengar akan sesuai dengan apa yang hati kita inginkan. Jika hati kita menolak, maka otomatis telinga dan lidah kita akan menolak.
    Pemuridan adalah tugas bapak rohani dan ibu rohani, mereka yang mengajarkan kita bagaimana menghidupi kebenaran firman Tuhan dalam hidup kita sehari-hari, sehingga karakter kita terbentuk seperti Kristus. Seperti halnya yang terjadi antara paulus dan Timotius, “Justru itulah sebabnya aku mengirimkan kepadamu Timotius, yang adalah anakku yang kekasih dan yang setia dalam Tuhan” (1 Kor 4:17). Paulus menjadikan Timotius sebagai anak rohaninya, karena paulus mengajarkan kepada Timotius bukan hanya sebagai pelayan Tuhan, melainkan juga memiliki hidup seperti Kristus. Itu artinya, Tuhan menyediakan orang-orang yang dipakaiNya untuk mengajar kita.

Untuk dapat dimuridkan, kita membutuhkan kesiapan sebagai berikut

  • Siap berubah
    Dunia berubah setiap detiknya orang yang berhasil adalah orang yang mau berubah. Orang yang merasa tidak perlu berubah tidak akan mengalami kemajuan dalam kehidupannya
  • Siap untuk belajar
    Orang yang memiliki keinginan untuk belajar, bukan hanya berkata bahwa mereka mau berubah tetapi juga mau terus belajar dan meningkatkan kualitas diri. Orang yang memiliki sikap siap untuk belajar, pastinya bersedia untuk membayar berapapun harganya untuk mendapatkan pengajaran
  • Siap untuk mengikuti
    Jika kita bersedia  untuk dimuridkan, maka kita harus siap untuk mengikuti contoh/teladan kehidupan ibu rohani kita; mencotoh nilai-nilai yang dipegangnya, mencotoh kebiasaan hidupnya, mencontoh bagaimana caranya ia bangkit dari kegagalan dan selalu rindu untuk terus belajar dari orang tersebut. Ini mungkin seperti sebuah perkara yang sederhana, namun juga merupakan sesuatu yang harus kita lakukan sepanjang kehidupan kita.

Seringkali kita memiliki orang yang bisa menjadi ibu rohani, ia yang dapat membimbing kita, penyebabnya sesungguhnya karena kita sendiri tidak mau memberi diri kita untuk dimuridkan. Pepatah cina tua mengatakan, jika murid siap, guru akan muncul

Marilah kita memberi diri untuk dimuridkan, agar benar-benar menjadi “The Christian” yaitu orang-orang yang memiliki karakter Kristus dalam hidupnya. Ketika kita dimuridkan, hidup kita akan jauh lebih maksimal, rencana Tuhan akan digenapi. Kita tidak perlu menghabiskan waktu kehidupan kita untuk berjalan dijalan yang salah karena kita tidak tahu jalan mana yang benar. Ketika kita mau di muridkan, hidup kita tidak akan sama lagi. (FD)

2018-05-13T19:09:50+00:00