Warisan Iman

“Ia meninggalkan Warisan Iman bagi saya, perkataannya menjadi kekuatasn saya,” demikian penuturan ibu Mience Honandar saat mengenang almarhum suami Bpk. Hendro Rivaldy Hondandar.

Satu bulan setelah mengikuti pembinaan Wanita Bijak, Ia ditinggal oleh suami untuk selamanya. Apakah yang membuat ia tetap tegar, mari kita simak kisah terobosan yang ia alami.

Setelah suami mengikuti pembinaan Pria sejati, beliau mendorong saya untuk ikut pembinaan Wanita Bijak, sampai akhirnya saya mengikuti pembinaan Wanita Bijak Injili Jakarta pada bulan Juli 2007. Dimata saya, ia adalah suami yang baik. Ia menjadi imam dalam keluarga, ia selalui mengajak anak-anak untuk berdoa setiap malam sekalipun ia bukanlah pribadi yang pandai berdoa. Lewat pembinaan Wanita Bijak, saya melihat banyak hal-hal kecil yang saya lakukan bagi suami ternyata sangat berarti. Hal-hal yang sepertinya ‘sepele’, ternyata memberi dampak besar. Misalnya : seharusnya setiap suami pulang kantor, harusnya saya melayani, namun saya suka gagal melakukan karena sudah emosi lebih dulu. Dahulu saya ini termasuk ibu yang rapuh, kalau anak saya sakit semua orang dirumah saya bisa ikut-ikutan panik. Tapi sekarang, saya banyak belajar untuk memegang janji-janji Tuhan.

Semenjak suami meninggal, saya sebenarnya hanya tau sebagai ibu rumah tangga, sekarang saya harus menjadi single parent, jadi saya harus belajar mandiri. Kata-kata suami menjadi kekuatan buat saya, ia selalu mengingatkan untuk selalu setia kepada Tuhan baik dikala susah maupun senang.  Tuhan mengirimkan teman-teman untuk menguatkan saya senantiasa. untuk terlibat sebagai fasilitataor dan panitia dalam pembinaan yang senantiasa mendoakan dan menguatkan saya,s ehingga saya bisa tetap setia dalam melayani Tuhan. (cc)

2018-06-21T05:35:12+00:00